Menelusuri Jejak Bahasa Adam di Austronesia [part 4]

Dalam satu dekade terakhir ini, internet dan terutama fasilitas penerjemahan online, telah berperan besar mengungkap sisi gelap sejarah bahasa yang selama ini menjadi ranah “kajian spekulasi” para ahli bahasa, sejarawan maupun antropolog dalam mengarahkan bentuk skenario historiografi dunia.

Fenomena ini dapat kita amati pada metode pengelompokan bahasa semisal rumpun bahasa Austronesia dan Indo-Eropa, yang kemudian dalam temuan beberapa waktu belakangan ini, melalui metode linguistik komparatif, rupa-rupanya menunjukkan adanya banyak kesamaan leksikon. 

Seperti yang ditunjukkan oleh Alvaro Hans (2017) dalam bukunya “Proto-Indo-European Language: FACE UNVEILED !” yang dengan metode linguistik komparatif, menunjukkan bahwa beberapa leksikon dalam bahasa tamil memiliki keidentikan dengan beberapa leksikon dalam bahasa rumpun Indo-Eropa. Bahasa Tamil sendiri oleh para ahli dikelompokkan ke dalam rumpun bahasa Dravida.

Temuan kesamaan leksikon yang ditemukannya tersebut, mendorong Alvaro Hans mengklaim bahwa Bahasa Tamil sebagai ibu bahasa Indo-Eropa atau Proto Indo-Eropa (PIE), yang merupakan objek pencarian para ahli bahasa dalam beberapa puluh tahun terakhir.

Salah satu kosakata yang disebut Alvaro Hans sebagai asli dari tamil adalah kata “food” (“makanan” dalam bahasa Inggris) yang disebutnya berasal dari bahasa tamil “vootu” yang artinya “makanan”. bentuk lainnya adalah “Voota” dalam bahasa Kannada (cabang bahasa Tamil) yang juga berarti “makanan”.

Capture dari buku

Yang menarik, karena sebenarnya, kata “food” (Inggris), ataupun “vootu” (Tamil) identik pula dengan kata “pudu’” dalam Bahasa Tae‘ yang artinya “mulut”. Dalam hal ini dapat diduga bahwa telah terjadi morfologi bahasa (perubahan fonetis dan pergeseran makna) dari pudu’ yang berarti “mulut,” menjadi food dan vootu yang berarti “makanan”. 

Demikian juga kata “Land” dalam bahasa Inggris yang berarti “tanah, tanah air, atau negeri,” Juga identik dengan kata Eelam atau Ilam (yang digunakan pada nama Eelam Tamil yang artinya negeri Tamil). Penyebutan Ilam dengan arti tanah, dapat pula dijumpai dalam bahasa tae’ di Luwu, yaitu pada nama Ilam batu atau Ilan batu.

Dalam bagian 3 telah saya tunjukkan ada banyak kosakata dalam bahasa sanskrit dan bahasa Yunani kuno yang sangat identik dengan kosakata dalam bahasa tae’.

Yang menarik karena beberapa kosakata dalam bahasa tae’ itu menunjukkan keindentikan dengan bahasa Yunani kuno tapi tidak ditemukan dalam bahasa Tamil.

Demikian juga etimologi kata “language” (Inggris) atau “lingua” (Latin) yang juga menunjukkan keidentikan dengan kata “lenguh” dalam bahasa Indonesia ataupun “lingua” dalam bahasa tae’.

Berikut penjabarannya…

Menelusuri Jejak Bahasa Adam di Austronesia [part 3]

“Hal yang penting dalam sains bukanlah menemukan fakta sebanyak-banyaknya, tetapi menemukan cara pandang baru terhadap fakta-fakta tersebut” – Sir William Bragg (1862-1942)

Rumpun bahasa Austronesia adalah rumpun bahasa terbesar di dunia yang terdiri dari sekitar 1.200 bahasa, mewakili seperlima dari total dunia. Diperkirakan ada  sekitar 386 juta orang (4,9% dari populasi dunia ) penuturnya saat ini.  

Tersebar di wilayah yang sangat luas mulai dari Madagaskar di barat hingga Pulau Timur di timur, dan dari Hawaii di utara hingga Selandia Baru di selatan, termasuk semenanjung malaya, kepulauan Asia Tenggara, sebagian besar pulau di bagian tengah dan Pasifik Selatan, serta Taiwan. 

Istilah Austronesia sendiri dimunculkan oleh Wilhelm Schmidt . Kata ini berasal dari bahasa Jerman austronesisch , yang didasarkan dari kata Latin “austro” (selatan), dan kata Yunani “nisos” (pulau).

Sejak abad ke 17 hingga hari ini, telah banyak ahli bahasa dunia yang terjun dalam penelitian rumpun bahasa Austronesia.

Pada 1706, sarjana Belanda Adriaan Reland pertama kali mengamati kesamaan antara bahasa yang digunakan di Kepulauan Melayu dan oleh orang-orang di pulau-pulau di Samudra Pasifik. Pengamatan tersebut menggunakan daftar kata yang dikumpulkan pada awal 1616 oleh rekan-rekan Reland, penjelajah Jacob Le Maire dan Willem Schouten. (Asya Pereltsvaig.  2012: 143)

William Marsden (1754-1836), seorang orientalis Inggris, ahli bahasa, numismatist, dan pelopor dalam studi ilmiah Indonesia, dalam bukunya On the Polynesian or East Insular Languages mengemukakan keserumpunan antara bahasa Melayu dan bahasa Polinesia. 

John Crawfurd (1783-1868) seorang dokter Skotlandia, administrator, diplomat kolonial, dan penulis, terkenal karena karyanya pada bahasa Asia, Sejarah Kepulauan India, dan perannya dalam mendirikan Singapura sebagai Residen Inggris terakhir di Singapura.

Pada tahun 1808 Crawfurd dikirim ke Penang, di mana ia menerapkan dirinya untuk mempelajari bahasa dan budaya Melayu. Di Penang ia bertemu Stamford Raffles untuk pertama kalinya. 

Pada November 1811, Raffles ditunjuk sebagai Gubernur Letnan Jawa, sementara Crawfurd diangkat menjabat Residen Gubernur di Pengadilan Yogyakarta. Sebagai Residen, Crawfurd juga mengejar studi tentang bahasa Jawa, dan membina hubungan pribadi dengan bangsawan Jawa dan sastrawan. Dia terkesan dengan musik Jawa. (Bennett Zon. 2007: 31)

Pada tahun 1848 dalam bukunya On the Malayan and Polynesian Languages and Races, John Crawfurd membantah pendapat Marsden yang mengemukakan keserumpunan antara bahasa Melayu dan bahasa Polinesia – John Crawfurd menyatakan bahwa bahasa-bahasa itu tidak menunjukkan kesamaan.