Dilmun: Tanah Suci Bangsa Sumeria, dan Hubungannya Dengan Nusantara

Dalam beberapa literatur dijelaskan bahwa Uruk dalam Alkitab disebut dengan nama “Erech”, di Yunani “Orchoi”, dan di Arab “al-Warka”.

Uruk yang dianggap sebagai “ibu dari semua kota,”  – terletak di dekat Sungai Efrat yang mengalir menuju Teluk Persia.

Penggalian arkeologi menunjukkan bahwa Uruk dimulai sebagai pemukiman kecil sekitar 5300 SM. (Michael Dumper, Bruce E. Stanley. Cities of the Middle East and North Africa: A Historical Encyclopedia. 2007 :  hlm. 384)

Selama periode Uruk, bangsa Sumeria menjadi lebih proaktif dalam perdagangan dengan negara tetangga mereka. Mereka mendirikan pos-pos perdagangan untuk mengendalikan perolehan sumber daya, seperti yang terletak di dalam pemukiman Hacinebi untuk memperoleh tembaga Anatolia.

Sumeria berhubungan erat dengan Susa dan Khuzestan, melalui mana mereka mengimpor tembaga dari Talmessi di dataran tinggi Iran. 

Pada 3000 SM, mulai dikenal teknologi pencampuran tembaga dengan timah untuk menghasilkan perunggu, membuatnya lebih keras dan karenanya lebih berguna. Setelah itu, tembaga dan perunggu semakin penting.

Riwayat mengenai seperti bagaimana dinamika bangsa Sumeria pada masa kuno, dapat kita temukan terekam dalam komposisi sastra Sumeria, Enmerkar and the lord of Aratta.

Karya sastra ini diperkirakan berasal dari sekitar tahun 2700 SM, menceritakan bagaimana Enmerkar (raja Uruk), yang ingin membangun sebuah kuil untuk Dewi Inanna, menggunakan berbagai strategi untuk mendapatkan lapis lazuli, perak, dan emas dari Negara Aratta, yang kebetulan juga memuja Dewi Inanna.

Untuk mencapai tujuannya enmerkar berusaha menggertak raja Aratta dengan mengklaim bahwa sang dewi lebih menyukai Uruk. (Jane McIntosh. Ancient Mesopotamia: New Perspectives. 2005 : hlm. 133)

Mengenai bahasa orang Sumeria, David Frawley dalam bukunya Gods, Sages and Kings: Vedic Secrets of Ancient Civilization mengatakan bahwa bahasa Sumeria bukanlah bahasa Semit atau Indo-Eropa. Itu adalah bahasa aglutinatif ( (bahasa Latin: agglutinare, “direkatkan bersama”) yang mungkin terkait dengan Dravida. Secara rasial bangsa Sumeria tampaknya memiliki tipe Mediterania yang sama dengan orang-orang di wilayah itu. 

Dari catatan kuno, bangsa Sumeria diketahui memiliki tanah suci di Timur (Eden in the East) yang disebut “Dilmun” (Telmun atau Tilmun), tanah matahari terbit, yang mereka asosiasikan asal-usul mereka, dan di mana pahlawan banjir mereka, Ziusudra, dikatakan telah hidup abadi.

Terjemahan Thorkild Jacobsen tentang Eridu Genesis menyebutnya “Gunung Dilmun” – ia sebut sebagai “tempat yang jauh / tempat setengah mitos”.

Negeri Dilmun juga adalah negeri yang sebenarnya dengan siapa Sumeria berdagang sepanjang sejarah mereka. Pada prasasti raja Ur-Nanshe dari Lagash (c. 2300 SM) yang dianggap sebagai salah satu prasasti paling awal yang menyebutkan Dilmun misalnya, terdapat kalimat “”Kapal-kapal Dilmun membawakannya kayu sebagai upeti dari negeri asing.”

Author: fadlybahari

Penjelajah dan Pengumpul Esensi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s