Angin Perubahan “Arab Spring” Mungkinkah Berhembus Juga di Indonesia?

Desember 2010 hingga mendekati pertengahan 2012 merupakan rentang masa pergolakan gelombang unjuk rasa dan protes yang melanda dan akhirnya menghadirkan perubahan besar pada lanskap sosial politik di dunia Arab.

Dalam rentang waktu itu, beberapa orang presiden akhirnya harus meninggalkan kursi kekuasaannya. Baik digulingkan secara paksa atau pun mengundurkan diri secara sukarela.

Gelombang angin perubahan bermula di Tunisia, yaitu ketika Mohamed Bouazizi (26 tahun) seorang pedagang buah di jalanan kota Sidi Bouzid, membakar dirinya sebagai bentuk protes dan akhirnya meninggal dunia. Latar belakang tindakan itu memang sungguh-sungguh memilukan.

Diceritakan bahwa sebelum kejadian itu, Mohamed Bouazizi kerap menjadi korban kebrutalan dan pelecehan polisi setempat. Suatu waktu dan ini menjadi peristiwa paling inti dari masa-masa revolusi arab selanjutnya, dirinya ditampar, diludahi, dan disita peralatan timbang dagangnya oleh seorang polisi wanita bernama Faida Hamdy. 

Pelecehan ini tidak membuatnya gentar. Ia meminta balik timbangan tersebut dengan mendatangi langsung kantor pemerintah kota. Permintaannya ditolak. Bahkan gubernur setempat enggan menemuinya. Jejak Awal Revolusi Situasi ekonomi yang buruk, sistem politik yang korup, serta rezim otoriter memang telah membulatkan tekadnya untuk menjadi simbol perlawanan. 

Satu jam setelah Gubernur Kota menolak menemuinya, Bouzizi selanjutnya pergi meninggalkan kantor namun datang kembali lengkap membawa bensin dan korek api. Ia berdiri tepat di tengah jalanan depan kantor gubernur yang ramai. Sembari menyiram tubuhnya dengan bensin, dirinya berteriak di tengah kerumunan “Bagaimana Anda mengharapkan saya mencari nafkah?” seketika itu juga dirinya terbakar. Diperkirakan sebanyak 5000 orang hadir saat upacara pemakamannya. (sumber di sini)

Mungkin benar Bouazizi tidak menyangka tindakannya akan memicu sebuah revolusi besar di negara-negara Arab. Tetapi kita yang ditinggalkannya, ada baiknya melihat hal itu sebagai pilihan skenario terbaik, “paling epik” dan “paling menggugah” yang diinginkan Sang Pencipta untuk memulai sebuah era baru di kawasan Arab… 

Setelah kejadian itu, protes besar rakyat Tunisia yang menuntut sebuah revolusi akhirnya membuat Presiden Zine El Abidine Ben Ali mundur dari kursi kekuasaan yang telah didudukinya selama 23 tahun. 

Keberhasilan revolusi di Tunisia memicu bangkitnya semangat yang sama di berbagai negeri Arab. Rakyat di Oman, Yaman, Mesir, Suriah, dan Maroko turun ke jalan menuntut perubahan. Mesir yang terkena imbas pertama. 

Author: fadlybahari

Penjelajah dan Pengumpul Esensi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s