Menafsir Diri Sendiri

Di suatu siang di pertengahan tahun 2018 lalu, di saat lagi duduk sendiri, katakanlah lagi tengah asik berkontemplasi, perhatian saya yang pada saat itu tengah sibuk mengamati kilasan sejarah dalam ruang waktu, tiba-tiba dikagetkan dengan hadirnya suatu arahan yang tercetus dari kedalaman bathin untuk mengamati tanggal lahir saya menurut Al Quran.

Saya masih ingat waktu itu saya cukup terkejut. Lalu bergerak cepat membuka Al Quran. Saya lahir pada hari senin 12 Juni 1978, jadi, jika mengikuti arahan tersebut untuk mengamatinya dalam Al Quran, maka, ini maksudnya merujuk pada surat ke 12 (Surat Yusuf) ayat ke-6.

Sejujurnya saya cukup tertegun ketika membaca kalimat bagian awal pada ayat tersebut, yang berbunyi: “Demikianlah Tuhanmu memilih dirimu, serta Dia mengajar dirimu tentang penyingkapan berbagai peristiwa [sejarah] …” Bunyi Terjemahan Surat Yusuf ayat 6 ini saya baca di wikipedia (di sini).

Bunyi terjemahan yang lain untuk ayat ini adalah: “Dan demikianlah, Tuhan memilih engkau (untuk menjadi Nabi) dan mengajarkan kepadamu sebagian dari takwil mimpi…”

Tentu saja kalimat dalam tanda kurung yang berbunyi “untuk menjadi nabi” merupakan tambahan sebagai bentuk tafsir dari para mufassir, karena dalam ayat aslinya kalimat itu jelas tidak ada.

Apa pun itu, saya pribadi tidak ingin berpikir jauh mengenai bunyi ayat tersebut, walaupun tidak bisa memungkiri jika poin kalimat “penyingkapan berbagai peristiwa [sejarah]” atau pun dalam bentuk terjemahan lain berbunyi “takwil mimpi” (tafsir mimpi), adalah dua hal yang memang akrab dengan saya selama ini.

Bagi saya mendalami sejarah adalah sebuah passion. Saya betah berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan mendekam di dalam kamar ketika sedang fokus mendalami suatu subjek sejarah.

Sementara mengenai takwil mimpi, saya tidak pernah membaca atau belajar mengenai hal ini, namun, saya dapat menafsir suatu mimpi (milik saya atau mimpi milik orang lain) oleh karena selalu ada di dalam diri saya yang memberi tahu maksud dari mimpi tersebut.

Terkhusus untuk mimpi saya, ketika saya dapat berpikir atau sadar dalam mimpi yang sedang saya alami, saya paham betul bahwa dalam mimpi itu ada sebuah petunjuk yang mesti saya cermati secara seksama lalu menginformasikannya kepada yang bersangkutan ((jika sekiranya mimpi saya itu menyangkut seseorang).

Demikianlah, arahan yang saya dapatkan di sekitar tahun 2018 itu seakan memberi saya sebuah cermin untuk melihat diri sendiri.

Jika arahan itu saya terapkan mengecek tanggal lahir saya menurut kalender hijriah, maka, merujuk pada tanggal 6 rajab (Rajab adalah bulan ke 7 dalam kalender Islam), jadi acuannya yaitu surat Al-Anam ayat 7, yang bunyinya: 

“Dan sekiranya Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, sehingga mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri, niscaya orang-orang kafir itu akan berkata, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.” 

Bagi saya, bunyi surat Al-Anam ayat 7 pun, pada dasarnya seakan menggambarkan apa yang selama ini saya alami, bahwa, sebaik apa pun saya menyajikan pembahasan suatu hal, dengan data jelas, dan argumentasi yang logis, orang yang memang tidak niat untuk percaya akan menepis semua itu. Dan biasanya penolakan itu mereka sampaikan dengan gaya sarkastis (mengejek).

Ini yang nampaknya disinggung firman Allah dalam ayat tersebut bahwa, meskipun informasi itu disampaikan berupa tulisan di atas kertas yang diturunkan dari langit, dan tangan mereka dapat memegangnya, mereka tetap tidak akan percaya! jadi, memang tidak ada gunanya untuk berupaya membuat yakin dan percaya orang-orang seperti itu.

Sekian. Semoga bermanfaat. Salam.

Author: fadlybahari

Penjelajah dan Pengumpul Esensi

2 thoughts on “Menafsir Diri Sendiri”

  1. Alhamdulillah, saya satu dari banyak orang yang takjub dan sangat menikmati tulisan2 bang Fadly.
    Mgkin sy punya kesamaan dalam kecenderungan berpikir dalam banyak hal termasuk tema2 yg abang bahas di web ini.
    Merasa 1 frekwensi. Walau frekwensi saya masih am kalau jiwa ini istrahat radio. Sedangkan mas Fadly udah FM stereo.
    Bang kalau boleh cobalah bahas tentang :
    1. Sudut pandang subject dalam Bahasa Al Quran, dimana kadang Allah disebut dengan kata ganti Dia, Aku, Kami, kira2 itu merupakan petunjuk apa atau menjelaskan apa.
    2. Dari mana asal ras yg berbeda2 di muka bumi, mungkinkah setiap ras adalah dari umat nabi2 yg berbeda? Dan bagaimana asal usulnya. Karena rasanya hampir tidak mungkin secara silang genetika alami menghasilkan evolusi ras yang berbeda2 sangat jauh.
    3. Saya sempat diskusi dengan bbrp admin akun ig diluar yg mereka lama mempelajari book of enoch (kitab nabi idris). Mereka menemukan bahwa memang bumi ini adalah ibarat lantai dan langit atap tanpantiang. Dan bumi ini datar. Dimana ada kubah imajiner berbentuk prisma (piramid) di lapis pertama. Dimana salah satu fungsi piramid ini adalah menciptakan hologram benda2 langit.
    Wow saya sudah lama berpikir bahwa bulan dan matahari bukanlah object riil, melainkan layaknya sebuah hologram , begitu juga bulan, krn curiga kenapa matahari terlihat dekat dan kadang bisa terlihat ada awan dibelakangnya.
    Begitu juga bulan. Diposisi manapun, wajah yg nampak selalu sama.
    Dan masih banyak lagi mindblowing facts yg mereka ceritakan berdasar book of enoch.
    Saya kira ini sangat menarik sekali.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s