Petaka Alam pada Masa Nabi Ibrahim yang Berdampak Global dan Meruntuhkan Banyak Peradaban


Sains seharusnya tidak mentolerir penyimpangan presisi, atau mengabaikan anomali, tetapi memberikan jawaban esensi kepada dunia dengan rendah hati dan dengan keberanian” – Sir Henry Dale  

Pada umumnya  para cendikiawan berpendapat masa hidup Nabi Ibrahim adalah di sekitar tahun 2200 SM, atau sekitar 4200 tahun yang lalu.

Ini misalnya disampaikan oleh Dr. Jerald F. Dirks, seorang yang awalnya pendeta kemudian memilih masuk Islam, dan merupakan ahli perbandingan agama dari Amerika, memperkirakan Nabi Ibrahim lahir pada sekitar tahun 2166 SM. [Mu’arif: Monoteisme Samawi Autentik, 2018: 72]

Tahun kehidupan Nabi Ibrahim ini bisa dikatakan sezaman dengan saat terjadinya serangkaian bencana besar yang melanda hampir di seluruh wilayah muka bumi, yang dampaknya berlangsung hingga 200 tahun kemudian.

Berikut ini beberapa pernyataan yang diberikan para ilmuwan dunia terkait bencana besar tersebut.

Barry Setterfield, seorang ahli fisika, geologi, dan astronomi Amerika, menyampaikan dalam situs resminya bahwa: “Ada beberapa bukti peristiwa di seluruh dunia dalam interval antara 2500 SM dan 2200 SM yang mungkin bertanggung jawab atas penghancuran sejumlah peradaban dan budaya yang signifikan”.

Dalam artikel John Noble Wilford “Collapse of Earliest Known Empire Is Linked to Long, Harsh Drought” (The Times, 24 Agustus 1993), disebutkan bahwa sebuah tim arkeolog, geolog, dan ilmuwan tanah telah menemukan bukti yang tampaknya memecahkan misteri penyebab keruntuhan tiba-tiba kekaisaran Akkadia sekitar 4200 tahun lalu. 

Kekaisaran Akkadia, menurut mereka, dilanda kekeringan 300 tahun dan benar-benar mengering. Sebuah analisis mikroskopis kelembaban tanah di reruntuhan kota-kota Akkadian di tanah pertanian utara mengungkapkan bahwa serangan kekeringan berlangsung cepat dan konsekuensinya parah, mulai berlangsung sekitar 2200 SM. 

“Ini adalah pertama kalinya perubahan iklim tiba-tiba secara langsung dikaitkan dengan runtuhnya peradaban yang berkembang,” kata Dr. Harvey Weiss, arkeolog Universitas Yale dan pemimpin tim peneliti Amerika-Prancis.

Dr Weiss mengatakan kesimpulan itu didasarkan pada pengujian tanah terutama di lokasi tiga kota Akkadian dalam radius 30 mil, tempat-tempat yang sekarang dikenal sebagai Tell Leilan, Tell Mozan, dan Tell Brak di Suriah saat ini. Bukti perubahan iklim serupa ditemukan di daerah yang berdekatan.

Selain itu, melalui pengamatan keramik dan artefak lainnya sebagai pelacakan bukti keberadaan orang Akkadia di Tell Leilan dan kota-kota utara lainnya, menunjukkan fakta pada para arkeolog tentang adanya kesenjangan 300 tahun dalam pendudukan manusia di Tell Leilan dan kota-kota tetangga. Interval tanpa tanda-tanda aktivitas manusia tersebut dimulai sekitar tahun 2200 SM. 

Temuan Jejak Migrasi Nabi Ibrahim 4200-an Tahun Lalu

Menelusuri jejak hijrah atau migrasi Nabi Ibrahim pada masa lalu adalah hal yang penting, karena terkait erat dengan sebuah hadist Nabi Muhammad yang menyebutkan: “ada hijrah setelah hijrah… Orang-orang akan menuju ketempat Nabi Ibrahim pernah hijrah…”

Pertanyaannya, dimanakah sesungguhnya letak tempat hijrah Nabi Ibrahim tersebut?

Dalam tulisan sebelumnya (“Siang River” (Sungai Siang) Nama lain Sungai Brahmaputra, Bukti Kaum Madyan Berasal dari Kawasan Benggala), telah saya ulas mengenai kemungkinan nama Madyan (putra Nabi Ibrahim dari Istrinya yang bernama Keturah) berasal dari nama wilayah di mana ia lahir, yaitu ‘Madhyanagar’ yang artinya ‘Negeri tengah’ dalam bahasa Sanskrit ataupun bahasa India dan Bengali.

Telah pula saya jelaskan dalam tulisan “Temuan Jejak (Terkini) Orang Madyan, Aikah, dan Rass yang Disebut dalam Al-Quran” bahwa sebutan nama Madhyanagar yang meliputi wilayah Bangladesh dan sekitarnya pada hari ini (termasuk negara bagian india; Meghalaya dan Assam), berasal dari konsep pembagian wilayah di muka bumi di masa kuno, yang menempatkan wilayah tersebut tepat di tengah-tengah antara wilayah timur dan wilayah barat bumi.

Hal tersebut, bahkan hingga hari ini dapat kita saksikan kebenarannya, dengan mencermati bahwa wilayah tersebut berada di garis bujur 90 derajat, dengan merujuk pada konsep modern bahwa titik meridian (0 derajat) berada di Greenwich, dan Anti meridian (titik garis bujur 180 derajat) berada di ujung timur, yakni di wilayah Tuvalu (sebuah negara di samudera pasifik). 

Adanya bukti kuat bahwa Madyan putra Nabi Ibrahim terlahir di wilayah Benggala, membuka dugaan lain jika Nabi Ibrahim pun pernah pula hadir di wilayah ini. Mengenai dugaan ini, telah pula saya ulas dalam tulisan lainnya (“Meghalaya” Sisi Paling Bersejarah di Bumi yang Jarang Diketahui (dan Sebagai Wilayah Tujuan Hijrah Nabi Ibrahim di Masa Kuno).

Dalam tulisan tersebut, saya menunjukkan bahwa mencermati tahun masa hidup Nabi Ibrahim yakni sekitar 2166 SM membuka ruang hipotesis lain bahwa bencana kekeringan yang menyebabkan Nabi Ibrahim melakukan hijrah atau migrasi (diisyaratkan dalam Al Quran surat Al Ankabut ayat 26, dan banyak diriwayatkan dalam tradisi agama samawi), memiliki korelasi dengan bencana kekeringan panjang (Megadrought) yang terdeteksi oleh ilmuwan geologi memang pernah terjadi dikisaran 4200 tahun yang lalu, atau di masa hidup Nabi Ibrahim. 

Dalam tulisan itu juga, saya memaparkan beberapa bukti jika tujuan dari Migrasi Nabi Ibrahim adalah kawasan Teluk Benggala. 

Untuk lebih mendukung hipotesis saya terkait subyek ini, dalam tulisan kali ini saya akan kembali memaparkan beberapa hal, yang bisa dikatakan sebagai “jejak migrasi Nabi Ibrahim” di wilayah Benggala,  yang kali ini sumber informasinya berasal dari kepercayaan kuno komunitas ‘Dimasa’, penduduk asli di wilayah Assam dan sekitarnya.

Meghalaya, Sisi Paling Bersejarah di Bumi yang Jarang Diketahui

Meghalaya yang dalam bahasa Sanskerta berarti “tempat tinggal awan”, adalah nama wilayah perbukitan di bagian timur laut India. 

Wilayah ini dianggap sebagai tempat terbasah di Bumi, dengan tingkat curah hujan tahunan yang mencengangkan yaitu rata-rata sebesar 11.871 mm (467,35 “). Bandingkan dengan Bogor yang digelari kota hujan, dengan curah hujan rata-rata setiap tahun sekitar 3.500 — 4000 mm.

Bahkan, Mawsynram, sebuah desa di distrik Bukit Khasi Timur, Meghalaya, tercatat dalam Guinness Book of World Records, pemilik rekor tertinggi yang belum terpecahkan, yaitu menerima curah hujan 26.000 milimeter (1.000 in) pada tahun 1985. (sumber di sini)

Ibukota Meghalaya adalah Shillong. Selama pemerintahan Inggris di India, otoritas kekaisaran Inggris menjulukinya “Skotlandia Timur”. [Arnold P. Kaminsky dan Roger D. Long, “India Today: An Encyclopedia of Life in the Republic”, 2011 : hlm. 455-459]

Air terjun Noakalikai di Meghalaya (sumber: wikipedia.org)
Air terjun Noakalikai di Meghalaya (sumber: wikipedia.org)
Jembatan hidup terbuat dari akar pohon di Meghalaya. Disebutkan ada yang berusia hingga 500 tahun (sumber: www.fodors.com) 
Jembatan hidup terbuat dari akar pohon di Meghalaya. Disebutkan ada yang berusia hingga 500 tahun (sumber: http://www.fodors.com

Hal menarik lainnya dari Meghalaya adalah karena Komisi Internasional tentang Stratigrafi (ICS), badan ilmiah yang bertanggung jawab untuk mengusulkan nama-nama baru untuk sejarah geologi Bumi, memilih nama Meghalaya sebagai nama zaman terbaru dalam sejarah bumi, atau bagian terakhir dari tiga subdivisi dari seri zaman geologis Holosen.

Sekedar untuk diketahui, zaman di mana kita hidup saat ini, dalam ilmu geologi disebut sebagai zaman Holosen, yaitu zaman yang dimulai dari sekitar 11.700 tahun yang lalu, yaitu setelah akhir zaman es terakhir. Zaman Holosen ini oleh para ilmuwan dibagi menjadi tiga bagian, yakni: Greenlandian, Northgrippian, dan Meghalayan. 

Sejak berakhirnya zaman es terakhir, iklim Bumi terus berfluktuasi. Pertama, ada periode hangat yang berlangsung dari 11.700 hingga sekitar 8.300 tahun yang lalu. Zaman inilah yang oleh para ilmuwan disebut sebagai zaman Greenland, atau awal holosen.

Selanjutnya, Bumi mengalami periode pendinginan bertahap dari sekitar 8.300 hingga sekitar 4.200 tahun yang lalu, Para ilmuwan kemudian menyebutnya sebagai zaman Northgrippian, atau tengah holosen.

Sungai Brahmaputra Bukti Jika Kaum Madyan Memang Berasal dari Kawasan Benggala

Peta Sungai Brahmaputra yang melintasi wilayah Benggala (dokpri)

Dalam tulisan sebelumnya (Temuan Jejak Orang Madyan, Aikah, dan Rass yang Disebut dalam Al-Quran), telah saya bahas hipotesa bahwa orang Madyan (kaum Nabi Shu’ayb) berasal dari Madhyanagar di kawasan teluk Benggala (di wilayah Bangladesh hari ini).

Hipotesa tersebut didasari pertimbangan bahwa etimologi kata ‘Madyan’ berasal dari bahasa Sanskerta ‘madya‘ yang artinya ‘tengah’. Begitu pula bentuk kata Midian (sebutan orang Eropa untuk kaum Madyan) berasal dari kata ‘mid‘ yang artinya ‘tengah’ atau ‘pertengahan’.

Sempat pula saya ajukan sanggahan  (pada pendapat yang selama ini berkembang) bahwa nama kaum Madyan bukanlah berasal dari nama anak Nabi Ibrahim (Madyan bin Ibrahim), tetapi berasal dari penamaan kampung halaman mereka sebagai “Negeri Madyan” atau “Negeri Tengah” (Negeri Pertengahan antara timur dan barat), yang merujuk pada konsep pembagian wilayah muka bumi di masa kuno menurut posisi matahari di langit. 

Sementara itu, dalam tulisan lanjutannya (Makna yang Terselubung dari Nama Nabi Syuaib), saya mengungkap fakta bahwa nama “Shu’ayb” yang bermakna “cabang” atau “percabangan” pada dasarnya juga memiliki keterkaitan dengan makna yang dimiliki Negeri Madyan sebagai “negeri tepat di posisi percabangan antara wilayah timur dan barat”.

Dalam tulisan kali ini, yang pada dasarnya merupakan lanjutan kedua tulisan di atas, saya kembali akan memaparkan informasi lain yang dapat menjadi fakta bahwa kaum Madyan memang berasal dari kawasan teluk Benggala.

Fakta tersebut adalah keberadaan sungai Brahmaputra yang mengalir di wilayah tersebut. Melintasi wilayah Assam dan Meghalaya (di sebelah barat India) lalu memasuki wilayah Bangladesh, untuk kemudian bermuara di laut teluk Benggala.

Makna dari nama sungai Brahma-putra ini besar dugaan saya merujuk pada makna: “Putra Nabi Ibrahim” – yaitu Madyan bin Ibrahim. 

Telah banyak kalangan yang berpendapat sama bahwa sebutan “brahma” berasal dari nama “Abraham” atau Ibrahim. Misalnya yang disampaikan Anna Bonus Kingsford, seorang Theosophist Inggris pada tahun 1880-an:

“Abraham , atau Brahma , – …mereka adalah satu, dan kata yang sama, dan menunjukkan satu doktrin yang sama” [Anna Bonus Kingsford: The Perfect Way: Or, The Finding of Christ, 1882; 2011 : 259]

Abdul HAQ Vidyarthi Maulana (1888 – 1977), seorang sarjana agama-agama besar dunia yang menyandang titel “The Vidyarthi” karena pengetahuannya yang luas tentang Veda Hindu, berpendapat bahwa  Brahma dan Abraham adalah dua nama dari satu orang yang sama.