Sosok Nabi Idris (Enoch) di Berbagai Tradisi Agama dan Mitologi

1 Shares
Reading Time: 12 minutes

“Nama asli Hermes adalah Enoch. Dia adalah seorang penghuni di dataran tinggi Cina…” Demikian penggalan bunyi surat anonim yang dibuat 900 tahun lalu. 

Mengidentikkan Hermes dengan Enoch (dikenal sebagai Nabi Idris dalam tradisi Islam) bukanlah suatu hal yang mengejutkan karena telah banyak pemikir sejak zaman dahulu yang juga memberikan opini seperti itu. 

Mengatakan bahwa Hermes atau Enoch sebagai penghuni di dataran tinggi Cina-lah yang membuat surat anonim itu menjadi sensasional. 



Terlebih karena yang teridentifikasi sebagai penulis surat anonim itu adalah seorang tokoh ilmuwan besar, yang jika dipikir-pikir rasanya tidak perlu lagi membuat sesuatu yang kontroversi hanya untuk membuat dirinya menjadi terkenal.

Penulisnya diidentifikasi sebagai Ibn Arfa ‘Ra’s, seorang muslim spanyol yang dikenal sebagai ahli kimia dari abad ke-12. Setidaknya, demikianlah yang diungkap Joseph Needham, dalam bukunya Science in Traditional China: A Comparative Perspective – yang mengutip surat anonim tersebut. 

Teman-teman, dukung saya dengan subcribe di Channel Youtube ini... itu akan sangat membantu channel Youtube ini untuk terus berkembang. Terima kasih!

Untuk lebih lengkapnya, Ibn Arfa ‘Ra’s, mengatakan seperti ini:

Nama asli Hermes adalah Ahnu (dengan kata lain, Enoch). Dia adalah seorang penghuni di dataran tinggi Cina, seperti yang ditunjukkan oleh penulis “Partikel Emas”, di mana dia mengatakan penambangan dijaga oleh Hermes di Cina, dan Ares (mungkin Horus) menemukan cara melindungi pekerjaan itu dari genangan air. Sekarang, Ares tinggal di Cina bagian bawah dan menjadi milik orang India pertama. 

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa Ahnu, damai sejahtera atasnya, turun dari dataran tinggi ke dataran rendah Cina ke India dan naik ke lembah sungai di Serendib (yaitu Ceylon), sampai ia tiba di puncak gunung di pulau tempat Adam turun. Begitulah cara dia menemukan gua, yang disebutnya Gua Harta barang berharga.

Terlepas dari benar atau tidaknya isi tulisan tersebut, bagi saya, pernyataan tersebut layak dipertimbangan. Terlebih jika menimbang reputasi Ibn Arfa ‘Ra’s sebagai seorang ahli kimia dari abad ke-12, yang terkenal dengan karyanya Shudhur al-Dhahab, dianggap sebagai teks alkimia puitis terhebat di dunia Muslim – salah satu buku utama ilmu alkimia Arab.

Demikian pula Joseph Needham yang mengutip tulisan tersebut, adalah seorang ilmuwan besar dunia yang tidak diragukan kredibilitasnya. Ia ahli biokimia Inggris, sejarawan dan ahli kebudayaan Cina.  

Dia terpilih sebagai anggota Royal Society pada tahun 1941, anggota British Academy pada tahun 1971, dan pada tahun 1992, Ratu Elizabeth II menganugerahkan kepadanya Companionship of Honor. 

Royal Society mencatat bahwa ia adalah satu-satunya orang yang semasa hidup memegang ketiga gelar tersebut. Needham, bersama rekannya, Julian Huxley, adalah salah satu pendiri Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO). 

Namun sebelum saya membahas penyamaan Hermes dengan Enoch (terutama mengenai ungkapan bahwa ia adalah penghuni di dataran tinggi Cina), terlebih dahulu saya ingin membahas penyamaan Hermes dengan dewa Thoth, dewa kebijaksanaan, tulisan, sains, dan seni dalam mitologi Mesir.

Hermes – Thoth

Identifikasi kesamaan Hermes yang merupakan dewa dalam agama dan mitologi Yunani Kuno dengan dewa Thoth (dewa dalam mitologi Mesir) telah dimulai ketika budaya dan pengaruh Yunani menyebar seiring penaklukan Alexander the Great. 

Hal itu dikenal dengan periode sinkretisme – atau “interpretatio graeca” artinya “terjemahan Yunani” atau “interpretasi dengan menggunakan [model] Yunani” – adalah upaya menafsirkan atau mencoba memahami mitologi dan agama dari budaya lain, dengan membandingkannya dengan konsep Yunani kuno dalam hal praktik keagamaan, dewa, dan mitos, untuk melihat kesetaraan dan karakteristik yang sama. [Mark S. Smith: God in Translation: Deities in Cross-Cultural Discourse in the Biblical World, 2008: 39]

Dalam hal ini, dewa Thoth diidentifikasi sebagai bentuk Mesir dari Hermes. Kedua dewa itu disembah di Kuil Thoth di Khemenu, sebuah kota yang kemudian dikenal dalam bahasa Yunani sebagai Hermopolis . [DM Bailey: “Classical Architecture” dalam “The Oxford Handbook of Roman Egypt” edited by Christina Riggs, 2012: 192]

Hal senada juga terungkap dalam dokumen astrologi abad ketiga SM, di mana imam petosiris menyurati Raja Nechopso, mengatakan bahwa Hermes adalah guru dari semua kebijaksanaan rahasia, yang, bagaimanapun, dapat dialami hanya dalam keadaan ekstasi. [ Marie-Luise von Franz: Projection and Re-collection in Jungian Psychology: Reflections of the Soul, 1995: 150]

1 Shares