Ini Alasan “Kayu Jati” Mendasari Kata “Sejati” dan “Jati Diri”

1 Shares
Reading Time: 2 minutes

‘Sejati’ dan ‘jati diri’ adalah kata yang sangat umum digunakan dalam bahasa Indonesia. Mungkin saking umumnya, ahli bahasa Indonesia tidak tertarik untuk menggali makna etomologinya.

Karena dalam upaya saya mencari tahu informasi mengenai hal ini di google, kebanyakan yang muncul adalah tulisan tentang definisi ‘sejati’ dan ‘jati diri’ dalam tinjauan aspek ilmu sosial maupun filsafat.

Bahkan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online pun memberikan jawaban serupa. ‘jati diri’: keadaan atau ciri khusus seseorang; identitas; sementara untuk kata ‘sejati‘: /se*ja*ti /lihat 1jati.



Sampai di sini, saya berpikir… mungkin penyebab rendahnya kualitas pendidikan Indonesia tidak semata-mata dilimpahkan kepada guru atau tenaga pengajar, tetapi juga karena kurang mendalamnya materi pelajaran yang diberikan… mungkin loh yaaa.. 🙂

Tapi kalau kita mau jujur, kenyataannya memang, di Indonesia ini masih sangat kurang orang-orang yang mau menulis sesuatu topik atau objek secara mendalam, hingga tiba pada titik dimana tidak ada lagi pertanyaan yang timbul setelah itu.

Teman-teman, dukung saya dengan subcribe di Channel Youtube ini... itu akan sangat membantu channel Youtube ini untuk terus berkembang. Terima kasih!

Kembali pada pembahasan sebelumnya….

Saya menjadi agak miris ketika pencarian saya tentang pembahasan makna etimologi ‘jati diri‘ malah mendapatkan jawabannya dalam buku asing (walaupun tetap tidak memuaskan). Ditulis oleh De-nin D. Lee, seorang sejarawan seni dan berspesialisasi dalam sejarah seni di Tiongkok. Judul bukunyEco–Art History in East and Southeast Asia. 

Dalam buku tersebut De-nin D. Lee sedikit mengulas etimologi ‘jati diri’ sebagai berikut:

...kata “teak” kemungkinan besar berasal dari Asia Selatan (Dravida). Dalam bahasa Melayu / Indonesia kayu itu disebut “Jati”. “Jati diri” dan “sejati” adalah kata-kata yang umum. Diri berarti “self”; jati-diri sering diartikan sebagai “identitas,” “kepribadian,” atau, paling tepatnya, esensi diri; dan sejati diartikan sebagai “pure” (murni), “true” (benar), “authentic” (autentik), “original” (orisinal), “genuine” (asli).

Pertanyaan mendasar saya “kenapa jenis kayu jati yang dijadikan ungkapan untuk sebutan ‘sejati’ ataupun ‘jati diri’, mengapa bukan jenis kayu lain,” akhirnya mendapatkan pencerahan ketika mencermati sebutan ‘kayu jati’ dalam bahasa asing.

Kata ‘Teak’ (jati) dalam bahasa Inggris ternyata berasal dari bahasa Tamil ‘tekku’, bahasa Telugu ‘teku’, bahasa Malayalam ‘thekku’, bahasa Sinhala ‘thekka’, bahasa Kannada ‘tega’.

Saya pikir, tampaknya kata ‘teguh’ dalam bahasa Indonesia berasal dari sebutan jati dalam bahasa Tamil ‘tekku’ ataupun bahasa Telugu ‘teku’.

Sifat kayu jati yang tahan air, dan terutama sulit mengalami pelapukan dikarenakan memiliki daya tahan yang tinggi, tampaknya yang menjadi dasar inspirasi orang-orang di masa lalu untuk menggunakan ‘jati’ sebagai ungkapan untuk sifat dan karakter dasar manusia yang memang sulit berubah.

Bentuk kata asing untuk jati; “tekku ataupun teku”, kemudian diserap ke dalam bahasa melayu (cikal bakal bahasa Indonesia) menjadi kata ‘teguh’ – merupakan kata sifat yang bisa dikatakan dalam bahasa Indonesia, secara khusus digunakan untuk menggambarkan karakter atau sifat manusia.

Jadi, kalimat seperti… “teguh dalam pendirian” bentuk kalimat sastranya bisa menjadi “jati dalam pendirian”.

Sekian. Semoga bermanfaat. Salam.

1 Shares