Misteri Gua Tempat Jasad Nabi Adam Disemayamkan

Tradisi Yahudi dan Islam umumnya menganggap pemakaman atau tempat peristirahatan terakhir Adam terletak di Gua Machpelah atau biasa juga disebut  “Cave of the Patriarchs” (gua para leluhur), terletak Hebron, Tepi barat.

Sementara itu, Tradisi Kristiani umumnya menempatkannya di Yerusalem, di bawah tempat Yesus disalibkan, yang biasa disebut “Cave of Treasures“. 

Meskipun pendapat tradisi Yahudi dan Islam berbeda dengan pendapat tradisi Kristiani mengenai letak makam Nabi Adam, namun Ketiga tradisi ini senada dalam mengatakan bahwa Seth bertanggung jawab atas penguburan ayahnya Adam.

Dalam naskah The Forgotten Books of Eden (tulisan-tulisan kuasi-Alkitabiah yang tidak pernah mencapai status kanonik, tapi dimasukkan dalam salah satu dari Apocrypha resmi, atau biasa juga disebut Pseudepigrapha Perjanjian Lama) ada memuat kisah hari-hari awal kehidupan Adam dan Hawa di dunia, kelahiran anak-anak mereka, hingga pula saat kematian Adam.

Pada Bab VIII The Forgotten Books of Eden, bagian di mana Adam memberikan kata-kata terakhir sebelum meninggal, terdapat kalimat yang secara spesifik menjelaskan permintaan adam kepada Seth bagaimana jasadnya mesti diperlakukan.

Yaitu bahwa setelah meninggal dunia, ia meminta agar tubuhnya dibungkus dengan Myrrh (mur), Aloes (gaharu), dan Cassia (kulit pohon cassia atau kayu manis Cina), dan tinggalkan di gua tempat ia tinggal selama ini bersama Hawa dan semua bukti tanda mata atau kenang-kenangan yang telah diberikan Tuhan.

Terdapat pula kalimat yang menunjukkan bahwa Adam telah memprediksi akan terjadi Banjir Bah, dan karena itu ia meminta agar jasadnya dibawa bersama kapal yang dibuat keturunannya pada saat itu.

Setelah menyempatkan memberi nasehat, bahwa jangan berbuat dosa, tetap suci dan berlaku adil, Percaya kepada Tuhan, hindari godaan setan, dan bahwa nasehat tersebut haruslah disampaikan secara turun temurun ke generasi-generasi selanjutnya, Adam kembali mengingatkan bagaimana jasadnya diperlakukan dan di mana jasadnya mesti diletakkan setelah banjir bah surut.

Ia mengatakan bahwa mereka yang pergi bersama kapal pada saat banjir bah terjadi, agar senantiasa menjaga keberadaan emas, dupa, dan mur ada bersama dengan tubuhnya, dan ketika banjir surut, tubuhnya beserta emas, dupa,  dan mur, agar diletakkan di tengah-tengah bumi.

Berita tentang diamankannya jasad Nabi Adam di atas kapal Nabi Nuh saat banjir bah terjadi, juga disampaikan al-Tabari. Hal ini dapat anda baca pada halaman 334, buku History of al-Tabari Vol. 1, The: General Introduction and From the Creation to the Flood, yang dialihbahasakan oleh Franz Rosenthal. 

Selain itu, disampaikan pula  Ibnu Katsir dalam naskah al-Bidayah wa an-Nihayah, yang ada kemungkinan merujuk pada al Tabari, karena dalam beberapa catatan disebutkan bahwa dalam hal tertentu Ibnu Katsir mengandalkan riwayat yang disampaikan al Tabari.

Tahukah Kamu dari Mana Asal Kata “Api”?

(gambar: cnn.com)

Dalam Kamus Komparatif Bahasa Austronesia yang disusun oleh Robert Blust (profesor di Departemen Linguistik Universitas Hawaii, seorang ahli linguistik historis , leksikografi , etnologi, mengkhususkan diri dalam penelitian bahasa-bahasa Austronesia) disebutkan bahwa bentuk paling awal kata ‘api’ adalah: Sapuy (PAN: Proto Austronesia); dan Hapuy (PMP: Proto Melayu Polinesia).

Turunan dari PAN meliputi: Saisiyat = hapoy; Proto-Atayalic = hapu-niq, hapuy; Pazeh = hapwi, hapuy; Thao = apuy; Bunun = sapud; Hoanya = dzapu; Tsou = puzu; Kanakanabu = apulu; Siraya = apuy; Proto-Rukai = apoy; Puyuma (Tamalakaw) = apuy; Paiwan = sapuy.

Turunan dari PMP meliputi: Klata = opuy; Itbayaten = hapoy; Ilokano = apuy; Isneg = apuy; Itawis = afi; Malaweg = apuy; Casiguran Dumagat = apoy; Pangasinan = apoy; Sambal = apoy; Tagalog = apoy; Maguindanao = apuy; Tiruray = afey; Tboli = ofi; Kujau = tapuy; Minokok = tapuy; Murik = api; Kayan = apuy; Melanau (Mukah) = apuy; Melanau Dalat (Kampung Teh) = apuy; Bukat = apuy; Bekatan = apoy; Kejaman = apuy; Lahanan = apuy; Melanau (Matu) = apuy; Kanowit = apoy; Ngaju Dayak = apuy; Ma’anyan = apuy; Malagasy = afo; Dusun Witu = apuy; Iban = api; Maloh = api; Proto-Chamic = apuy; Malay = api; Acehnese = apuy; Karo Batak = api; Toba Batak = api; Mentawai= api; Lampung = apuy; Sundanese = apuy(archaic); Old Javanese = apuy, apwi; Javanese = api; Madurese = apoy; Balinese= api; Sasak = api; Proto-Minahasan = api; Totoli = (h)api; Petapa Taje = api; Balantak = apu; Bare’e = apu; Tae’ = api; Mori Atas = apui; Bungku = api; Koroni = api; Moronene = api; Proto-South Sulawesi = api; Mandar = api; Makassarese = api; Bonerate = api; Popalia = api; Bimanese = afi; Komodo = api; Manggarai = api; Ngadha = api; Keo = api; Riung = api; Proto-Ambon = apu(y); Laha = au; Hitu = au; Seit = au; Asilulu = au; Batu Merah = aow; Morella= aow; Amblau = afu; 

Dan masih banyak lagi, yang tak dapat disebut di sini satu per satu. Untuk selengkapnya pembaca dapat mengunjunginya di sini: www.trussel2.com

Dalam bahasa Sanskerta sendiri, selain kata ‘agni’ (yang umum dikenal bermakna ‘api’), ada kata ‘vRSAkapi’ yang juga artinya: api / matahari / kera. 

Lalu, ada juga dalam bahasa Sanskerta kata ‘kapila’ (nampaknya cukup ada keterkaitan dengan kata ‘vRSAkapi’) yang artinya: coklat / kuning kecoklatan / kemerahan / berambut merah / warna monyet. 

Terkhusus untuk pengertian ‘kapila’ yang terakhir (warna monyet), saya menduga, bisa jadi memang ada keterkaitan antara kata ‘api’ dengan kata ‘ape’ yang dalam bahasa Inggris berarti ‘kera’.