Sejarah Nama Tuhan dalam Tradisi Agama Samawi

Mengenai kata Tuhan dalam Bahasa Indonesia

Tidak dapat disangkal, kata Tuhan dalam Bahasa Indonesia memang berasal dari kata “tuan”. Hal ini setidaknya diungkap pula dalam Ensiklopedi Populer Gereja oleh Adolf Heuken SJ (1976), bahwa kata Tuhan ada hubungannya dengan kata Melayu ‘tuan’ yang berarti atasan/penguasa/pemilik.

Untuk hal ini, Remy Sylado dalam tulisannya berjudul “Bapa Jadi Bapak, Tuan Jadi Tuhan, Bangsa Jadi Bangsat” menanggapi sebagai berikut:

Agaknya buku pertama yang memberi keterangan tentang Tuhan dengan cara yang mungkin mengejutkan awam adalah Ensiklopedi Populer Gereja oleh Adolf Heuken SJ. Keterangannya di situ, Tuhan, “arti kata ‘Tuhan’ ada hubungannya dengan kata Melayu ‘tuan’ yang berarti atasan/penguasa/pemilik.” Ensiklopedia yang hanya satu jilid ini pertama terbit pada tahun 1976. Keterangan tersebut masih kita baca lagi dalam ensiklopedianya yang lebih paripurna, terdiri dari lima jilid, terbit pada tahun 1991, yaitu Ensiklopedi Gereja. 

Lebih lanjut menurut Remy, melalui terjemahan Melchior Leijdecker-lah kita menemukan perubahan harfiah, untuk kata ‘tuan’ (yang bersifat insani) dengan kata ‘Tuhan’ (yang bersifat ilahi) dalam khasanah bahasa Indonesia.

Pertanyaan lain yang juga mesti dicari jawabannya yaitu, dari manakah sesungguhnya kata ‘tuan’ berasal?

Untuk hal ini, saya melihat ada kemungkinan jika etimologi kata ‘tuan’ berasal dari bentuk “to/tau – wang“. ‘To‘ atau ‘tau‘ (dalam bahasa tae’ artinya ‘orang’); dan ‘wang‘ (yang dalam bahasa Cina artinya ‘raja’ atau ‘penguasa’). Jadi, to/tau-wang artinya: “orang penguasa”.

Mengenai adanya percampuran bahasa sedemikian rupa pada etimologi kata ‘tuan’ (dari bahasa tae’ dan bahasa Cina), informasi dari Yi Jing, biksu Buddha dari Cina, yang pernah berkunjung ke Nusantara di sekitar abad 7 masehi, kiranya dapat menjelaskan hal ini.

Dalam catatannya Nanhai Jigui Neifa Zhuan, yang lalu diterjemahkan J. Takakusu ke dalam bahasa Inggris dengan judul A record of the Buddhist religion as practised in India and the Malay archipelago, Yi Jing mengatakan bahwa di wilayah ini orang-orang pada umumnya dapat berbahasa Cina, bahasa Sanskerta, selain bahasa kunlun yang merupakan bahasa utama.

Itulah makanya, Yi Jing menyarankan bagi biksu Buddha yang ingin ke India mendalami naskah suci yang menggunakan Sanskerta, untuk sebaiknya ke Nanhai (Nusantara) terlebih dahulu menyiapkan diri.

Sekian uraian ini, semoga bermanfaat. Salam.

Author: fadlybahari

Penjelajah dan Pengumpul Esensi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: