Sejarah Nama Tuhan dalam Tradisi Agama Samawi

Nama Tuhan dalam tradisi Kristiani dan Muslim

Maximillien De Lafayette Dalam bukunya yang berjudul “The origin of the name of God and His identity” dengan antusias mengatakan: 86% orang Amerika berpikir bahwa “Allah” adalah tuhan umat Islam, dan “Allah” bukanlah tuhan orang Kristen…. 86% itu salah 100% !! “Allah” adalah kata Arab; (…) “Allah” juga adalah kata Kristen! Benarkah? Tentu saja! Karena kata “Allah” digunakan sekitar 656 tahun sebelum Nabi Muhammad lahir.

Ungkapan tersebut memang benar. Jauh sebelum Nabi Muhammad terlahir, Sebutan “Allah” telah digunakan dalam tradisi Kristiani secara luas, baik kaum Kristiani yang tinggal di semanjung Arab, Afrika Utara, dan Timur Tengah.

Hingga hari ini, semua orang Arab baik yang beragama Yahudi maupun yang beragama Kristen, masih menggunakan “Allah” sebagai satu-satunya kata untuk Tuhan. Bahkan Malta yang mayoritas beragama Katolik Roma juga menggunakan sebutan “Alla”.

Jika merujuk pada pendapat para arkeolog, sebutan “Ilah” (yang berarti Tuhan dalam bahasa Arab) sesungguhnya telah digunakan dalam budaya bangsa-bangsa pada masa kuno. 

Frank Moore Cross (1973) misalnya, dalam bukunya Canaanite Myth and Hebrew Epic – Essay in the History of the Religion of Israel menjelaskan bahwa : …ila adalah bentuk ejaan dari nama ilahi yang mana banyak ilmuwan memilih bentuk normalnya sebagai / ‘ilah /. (…) menunjukkan bentuk predikat baik dalam Amorite dan Akkadia Kuno. “Ila” atau “Il” adalah dewa utama dari Mesopotamia pada periode Pra-Sargonik.

El” atau “Il” juga Muncul dalam teks Ugaritik, yang diperkirakan berasal dari milenium ke-2 SM, bermakna sebagai “dewa” secara umum, dan juga bermakna sebagai kepala atau yang tertinggi dalam jajaran dewa-dewa.

Dalam Perjanjian Lama sendiri, “El‘ adalah Bentuk paling sederhana yang digunakan untuk penyebutan Tuhan. Bentuk ini dianggap sebagai bentuk nama yang pertama dan yang terpenting. 

Demikianlah, ada benarnya ketika Wilhelm Schmidt menyatakan dalam The Origin of the Idea of God (1912), bahwa telah ada suatu monoteisme sebelum manusia mulai menyembah banyak dewa.

Bahwa pada masa yang paling primordial atau paling awal dalam sejarah manusia di muka bumi, kepercayaan manusia hanya mengakui dan menyembah satu Tuhan, namun lambat laun seiring berjalannya waktu, abad demi abad kemudian, kepercayaan tersebut berkembang menghadirkan Tuhan-Tuhan lain.

Author: fadlybahari

Penjelajah dan Pengumpul Esensi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: