Ma’Bua, Ritual Pengorbanan Manusia pada Masa Lalu

Setelah terbunuh, kepalanya dipenggal, lalu dipanggang di atas api sampai bersih, yaitu, bagian rambut telah hilang atau dapat mudah dihapus. Setelah siap, kepala itu lalu digantung bersama tanduk kerbau yang disembelih. #ritualmabua

Keesokan harinya, pongkalu mengambil tengkorak tua, yaitu tengkorak orang-orang yang telah dikorbankan pada ritual-ritual sebelumnya, bersama dengan tengkorak tandasang yang baru, Pongkalu membawa tengkorak-tengkorak tersebut ke sebuah gunung dekat desa. 

Di sini Pongkalu melakukan prosesi berkorban ke dehata (dewata), setelah usai, tengkorak-tengkorak tersebut kembali dibawa ke rumah tobara, tempat asal dimana tengkorak-tengkorak tersebut di simpan. Prosesi ini disebut ma’palapa boea artinya “menutup boea”.

Demikianlah, prosesi ritual Ma’Bua yang pernah berlangsung di wilayah Seko (Kabupaten Luwu Utara hari ini). Di masa lalu, prosesi ini nampaknya umum dilaksanakan di berbagai suku di pulau Sulawesi.

Setelah pengislaman yang gencar dilakukan, dimulai  di awal abad ke 17, yang didasari perintah kerajaan (kedatuan) dan karenanya dilaksanakan dengan kekuatan militer kerajaan, maka, perlahan-lahan ritual mengerikan tersebut hilang, terutama di bagian pesisir pulau Sulawesi.

Tersisa di wilayah pegunungan saja, yang nampaknya masih dilakukan hingga masa kolonial, seperti yang masih dapat dijumpai Kruyt dalam ekspedisinya di tengah pulau Sulawesi di akhir abad ke-19.

Keindahan Alam Seko

Walaupun memiliki ritual yang mengerikan pada masa lalu, Seko adalah wilayah dataran tinggi dengan panorama alam yang menakjubkan. Buktinya, keindahan alam wilayah ini telah banyak diliput berbagai TV nasional. Salah satunya adalah Kompas TV, untuk Program “Explore Indonesia”.

Perjalanan Tim peliput Kompas TV ke daerah yang berada di ketinggian 1800 mdpl ini, dimuat dalam artikel kompas.com dengan judul “Naik Ojek Termahal di Indonesia Menuju Seko”.

Dalam artikel tersebut, Tim peliput Kompas TV melaporkan jika ongkos ojek yang mereka gunakan dari Masamba (ibukota kabupaten Luwu Utara) menuju Seko berkisar kurang lebih 1 juta.

Hal ini terutama dikarenakan selain jaraknya yang cukup jauh juga karena kondisi jalan yang sangat buruk. Lama jarak tempuh umumnya berkisar antara 3 hari hingga kadang bisa seminggu jika kondisi cuaca memburuk.

Sulitnya akses jalan menuju Seko, membuat wilayah ini terisolir sekian lama. Barulah di tahun 2019 kemarin, pembangunan jalan secara serius dilaksanakan untuk membuka akses ke Seko.

Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah, yang berkomitmen untuk menyelesaikan pembangunan jalan ke Seko di masa jabatannya.

Nurdin Abdullah (Gubernur Sulsel) dan Ibu Indah Putri Indriani (Bupati Luwu Utara) saat kunjungan ke Seko (sumber: portal.luwuutarakab.go.id)

 

Rombongan Bupati Indah Putri Indriani saat melintas di Puncak Sodangan menuju ibukota Kecamatan Seko (sumber: portal.luwuutarakab.go.id)
Kondisi perintisan ruas jalan ke Seko (sumber: portal.luwuutarakab.go.id)

Sekian. Semoga bermanfaat. Salam.

Author: fadlybahari

Penjelajah dan Pengumpul Esensi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: