Fakta Ratu Sima sebagai Penguasa Dunia yang Diramalkan Sang Buddha

Dalam tulisan sebelumnya (Mengungkap Sosok Penguasa Dunia yang Diramalkan Sang Buddha) telah saya ungkap mengenai suatu nubuat yang diucapkan Buddha Sakyamuni (Siddhartha Gautama), bahwa akan hadir seorang Chakravartin perempuan yang akan memerintah Jambudvipa sebagai reinkarnasi Vimalaprabha. 

Nubuat tersebut terekam dalam Mahameghasutra (di Cina dikenal sebagai “Dayun jing”, dan oleh sejarawan hari ini dikenal dengan sebutan “The Great Cloud Sutra”). 

Ucapan Buddha bahwa Chakravartin perempuan tersebut akan hadir sekitar seribu tahun setelah ia parinirvana (kematiannya), menjadi acuan bahwa masa kedatangan Chakravartin perempuan tersebut berada di sekitar abad ke 6 M, oleh karena kisaran tahun kematian Buddha menurut negara-negara Theravada adalah 544 atau 545 SM. Lalu dalam tradisi Buddhis Burma, tanggal kematian Buddha adalah 13 Mei 544 SM, sedangkan dalam tradisi Thailand adalah 11 Maret 545 SM. (Eade, JC:  The Calendrical Systems of Mainland South-East Asia, 1995) 

Sayangnya, disekitar masa itu (abad ke 6 hingga abad ke 7), ada permaisuri Wu Zetian yang mengklaim dirinya sebagai sosok Chakravartin yang diramalkan sang Buddha. Namun dengan mencermati Track record Wu Zeitan yang dipenuhi intrik dan tindakan-tindakan keji selama hidupnya, maka saya pikir sangat tidak mungkin untuk menganggap Wu Zetian sebagai sosok Chakravartin sekaligus Bodhisattva yang dimaksudkan Buddha Sakyamuni.

Karena Bodhisattva sesungguhnya adalah seorang yang suci. Dikenal memiliki sifat welas asih dan sifat tidak mementingkan diri sendiri dan rela berkorban. Ia mendedikasikan dirinya demi kebahagiaan makhluk selain dirinya di alam semesta. Ia dapat juga diartikan “calon Buddha”.

Silahkan baca pembahasan mengenai nubuat Buddha Sakyamuni dan intrik Wu Zetian di tulisan sebelumnya: Mengungkap Sosok Chakravartin (Penguasa Dunia) yang Diramalkan Sang Buddha.

Sebagai sosok alternatif untuk figur Chakravartin sekaligus Bodhisattva yang dimaksudkan Buddha Sakyamuni dalam nubuatnya, saya mengajukan sosok Ratu Sima yang juga merupakan pemimpin wanita yang hebat Di masa itu. Ratu Sima dari kerajaan Holing, oleh para sejarawan dianggap sebagai cikal bakal berdirinya dinasti Sailendra, yang menguasainya Nusantara hingga sebagian wilayah Indocina. 

Penobatan Ratu Sima sebagai raja di kerjaan Holing terekam dalam kronik Cina. Disebutkan bahwa pada tahun 674 M rakyat kerajaan Holing menobatkan seorang perempuan sebagai ratu yaitu ratu Hzi-mo [Sima]. Dalam saat yang sama, di Cina yang berkuasa saat ini adalah Kaisar Gaozong (Dinasty Tang).

Yang menarik karena ada banyak silang pendapat di antara para sejarawan mengenai asal usul Ratu Sima sebagai Ratu kerajaan Holing yang disebut dalam kronik Cina. Karena rupa-rupanya asal muasal Ratu Sima sulit terlacak.

Mengungkap Sosok Penguasa Dunia yang Diramalkan Sang Buddha

foto: Hintha/wikimedia.org

Sebuah ramalan yang diucapkan Buddha Sakyamuni (Siddhartha Gautama) mengatakan bahwa akan hadir seorang penguasa dunia atau Chakravartin perempuan yang akan memerintah Jambudvipa sebagai reinkarnasi Vimalaprabha. Ramalan tersebut terekam dalam Mahameghasutra (di Cina dikenal sebagai “Dayun jing”, dan oleh sejarawan hari ini dikenal dengan sebutan “The Great Cloud Sutra”).

Dalam agama di India, sebutan chakravartin diperuntukkan bagi seorang penakluk dan penguasa dunia ideal, yang memerintah secara etis dan penuh belas kasihan atas seluruh dunia.

Sang Buddha meramalkan bahwa chakravartin tersebut adalah reinkarnasi Devi Vimalaprabha (yakni salah satu murid perempuan Buddha), dikenal dengan nama lain Devi Jingguang atau juga Yueguang tongzi.

Terkait hal ini, sebuah interpolasi apokrif dalam ratnameghasutra, mengatakan bahwa Yueguang dinubuatkan akan dilahirkan kembali di negara China sebagai penguasa wanita yang kuat, yang akan memberkati rakyatnya dengan kebijaksanaan dan kebaikannya, dan membuat Agama Buddha berkembang baik secara spiritual maupun material. Setelah pemerintahan yang panjang dan damai dia akan dilahirkan kembali di surga Tusita dan bergabung dengan Maitreya.

Perikop kitab suci Tiongkok yang dianggap paling awal membahas tentang Bodhisatvva Yueguang Tongzi, yang secara eksplisit menyebutkan bahwa sang Bodhisatvva akan hadir di Cina, dikutip dalam buku “Leyden Studies in Sinology” berikut ini kutipan tersebut…

Dicapture dari buku “Leyden Studies in Sinology” edited by W. L. Idema, hlm. 46-47 (Dokumen pribadi)

Sang Buddha mengatakan kepada Ananda bahwa: “Seribu tahun setelah Parinirvana (kematian) saya, ketika ajaran suci segera akan terputus, saat itulah Yueguang tongzi akan muncul di Cina untuk menjadi penguasa suci. Dia akan memperoleh Doktrin kanonik saya dan dengan hebat menghidupkan kembali transformasi keagamaan. Penduduk China serta negara-negara perbatasannya – yaitu penduduk Lob Nor, Udyana, Kucha, Kashgar, Ferghana dan Khotan, dan bahkan para Qiang caitiff dan kaum barbar Yi dan Di – semua akan memuliakan Sang Buddha dan mematuhi Ajarannya, dan di mana – mana (orang) akan menjadi bhiksu”

Interpolasi kedua yang ditemukan dalam versi Narendrayasas (diperkirakan ditulis sekitar tahun 583), bahkan lebih spesifik:

“Di masa yang akan datang, di era akhir Ajaran, di negara Sui (Great Sui) di benua Jambudvpa, ia akan menjadi raja besar Daxing, yang akan mampu membuat semua makhluk di negara Sui memiliki keyakinan pada Ajaran Buddha dan menanam semua akar kebaikan. 

Pada saat itu raja Daxing, melalui kekuatan agung dari keyakinannya, akan memuliakan mangkuk sedekah saya. Pada tahun-tahun itu mangkuk sedekah saya akan tiba di Kashgar, dan dari sana akan bergerak secara bertahap ke negara Sui Besar, di mana raja Daxing akan memuliakannya dengan persembahan dalam skala besar. 

Dia akan dapat mempertahankan semua (bagian) dari Ajaran Buddha, dan dia juga akan menyebabkan tulisan suci Mahayana luas ditulis dalam jutaan salinan yang tak terhitung jumlahnya, dan akan menempatkan ini ke dalam pusat Buddhis bernama “tempat suci Dharma” …

Adapun saat kedatangan Bodhisatvva sekaligus Cakravartin wanita ini, jika merujuk pada ucapan sang Buddha bahwa hal itu akan terjadi seribu tahun setelah masa kematiannya (Parinirvana), maka bisa diperkirakan masa itu ada di sekitar abad ke 6 masehi.

Oleh karena kisaran tahun kematian Buddha menurut negara-negara Theravada adalah 544 atau 545 SM. Lalu dalam tradisi Buddhis Burma, tanggal kematian Buddha adalah 13 Mei 544 SM, sedangkan dalam tradisi Thailand adalah 11 Maret 545 SM. (Eade, JC: The Calendrical Systems of Mainland South-East Asia, 1995)