Kosmologi: Konsep Pengenalan Jati Diri Manusia yang Terawal

(sumber: http://www.asztropresszhirek.com)

Dalam tulisan sebelumnya (Makna Sakral di Balik Nama-nama Angka) saya telah menunjukkan bukti bahwa nama-nama angka dalam bahasa tradisional di Indonesia terutama dalam bahasa tae’ sesungguhnya menyimpan pesan yang sangat sakral tentang konsep kosmologi. Yang mana pesan itu berbunyi: “SATU TAKDIR KEMUDIAN DITUANGKAN/DITEMPATKAN KE DALAM WADAH YANG TERBUAT DARI UNSUR ANGIN, UNSUR AIR, UNSUR TANAH DAN UNSUR API.”

Sangat jelas bahwa ungkapan rahasia yang tersimpan rapat dan tersamarkan dalam penamaan angka ini bercerita tentang eksistensi manusia, sebagai entitas yang sepanjang masa hidupnya dibayangi takdirnya, sekaligus sebagai entitas materi yang tersusun dari empat unsur utama.

Jika kita cermat mengamati, sesunggunya memang tatanan kosmologi tersaji di hampir seluruh lini kehidupan manusia di masa lalu. Dari penamaan arah mata angin, susunan nama angka-angka, dan mungkin masih banyak lagi bentuk simbol-simbol beserta filosofinya yang belum berhasil kita ungkap.

Agar dapat mengenal lebih jauh bagaimana konsep kosmologi menghiasi tatanan hidup masyarakat Nusantara, berikut ini saya mencoba mengulas beberapa etnik di Nusantara, seperti Jawa, Bugis, dan Toraja yang nampak jelas konsep kosmologi menghiasi corak hidup masyarakatnya.

Kosmologi dalam masyarakat Jawa

Dalam masyarakat Jawa terdapat pemahaman “sangkan paraning dumadi” atau “asal dan tujuan kehidupan manusia”(Mahmud Thoha. Membangun paradigma baru ilmu pengetahuan sosial dan kemanusiaan. 2003. Hlm. 27), yang merupakan falsafah kehidupan sarat makna yang terkandung dalam alphabet Jawa; Hanacaraka. 

Pemahaman filosofis tersebut merupakan konsep makro kosmos dan mikro kosmos yang dalam bahasa Jawa disebut dengan Bawana Ageng (alam semesta) dan Bawana Alit (tubuh manusia).

Aji Saka dipercaya adalah sosok yang menyusun abjad Jawa. Dalam riwayatnya, Aji Saka menyusun abjad ini untuk menggambarkan kedua abdinya yang saling bertengkar, sama-sama saktinya dan akhirnya sama-sama menemui ajalnya. Kisah tersebut secara rinci diturunkan dengan makna aksara Jawa itu sendiri, yakni:

  • HANACARAKA : ada utusan
  • DATASAWALA : saling bertengkar
  • PADHAJAYANYA : sama kesaktiarmya
  • MAGABATHANGA : meninggal semua

Menurut sumber lain, Para pembantu setia Aji Saka dikatakan sesungguhnya sebanyak empat orang, bukan dua orang seperti yang banyak dikisahkan. Nama para pembantu Aji Saka tersebut dikatakan berasal dari bahasa Kawi, atau Jawa Kuno, yaitu:

DURA, yang dalam bahasa Kawi berarti anasir alam berupa “Air”. Bila dibaca sebagai Duro, artinya = bohong. Yang menarik dari hal ini adalah bahwa kata “duro” dalam bahasa tae’ berarti “air”. Di Sulawesi selatan kata “duro” biasanya digunakan pada kuah makanan (Duro konro, duro gulai, duro bakso, dan lain sebagainya).

SAMBADHA, yang dalam Bahasa Kawi berarti anasir alam yang berupa “Api”. Jika ditinjau kemungkinan adanya perubahan fonetik dari nama “sambadha” ini, yakni; fonetik d menjadi  r (seperti yang terjadi pada kata panrita menjadi pandita, karatuan menjadi kadatuan atau kdaton menjadi kraton, dan masih banyak lagi contoh lainnya) maka kita akan mendapatkan bentuk lainnya yaitu; sambarha / sambara / atau sang Bara. 

Dengan adanya bentuk kata “bara” dalam nama “sambadha” ini tentunya bisa kita sepakat bahwa nama “SAMBADHA” memang ada keterkaitan dengan unsur API.

DUGA, dalam bahasa Jawa Kuno berarti anasir alam yang berupa “Tanah”. Jika ditinjau kemungkinan adanya perubahan fonetik dari nama “duga” ini, yakni; fonetik d menjadi r kemudian menjadi l, dan fonetik g menjadi k (kelompok fonetis konsonan guttural) maka kita akan mendapatkan bentuk lainnya yaitu; luga / luka. 

Dalam huruf hanzi, aksara lu / luk / atau Loke (menurut pengucapan Kanton), artinya adalah “tanah”. Hasil dari pengamatan perubahan fonetis ini, saya pikir dapat meyakinkan kita jika nama “DUGA” memang berbicara tentang unsur “TANAH”.

PRAYUGA, dalam Bahasa Jawa Kuno artinya adalah “Angin”. Jika ditinjau kemungkinan adanya perubahan fonetik dari nama “prayuga” ini, yakni; fonetik r menjadi l, dan fonetik y menjadi j, maka kita akan mendapatkan bentuk lainnya yaitu; plajuga / plajuka / plajuk / plaju / atau pe-laju. 

Dalam Kamus besar bahasa Indonesia, kata “laju” diartikan; “cepat” , untuk hal yang terkait dengan gerak, lari, terbang, dan sebagainya. 

Jika fonetik p pada pe-laju kita ganti dengan fonetik m, maka bentuknya menjadi melaju. Kata melaju ini tentunya lebih mudah untuk kita nalar sebagai sesuatu yang terkait dengan unsur “angin”.