Sulawesi: Disebut K’u-lun dalam Kronik Cina dan Gurun dalam Kitab Nagara Kretagama

Seri Pengungkapan Nama-nama Kuno Pulau Sulawesi-1

Sejak mulai mengetahui tentang Asia Tenggara, orang Cina sudah menggunakan istilah K’ulun untuk menamai bangsa-bangsa laut yang penting di daerah itu.  Hal ini sesuai dengan pengantar I-Tsing (seorang pendeta Buddha yang berangkat ke Malayu dan India) dalam bukunya A Record of the Buddhist Religion as Practised in India and the Malay Archipelago  : …Di antara negeri-negeri ini, ada yang kelilingnya kira-kira seratus batu Cina; ada yang kira-kira seratus yojana. 

Meskipun sulit untuk menghitung jarak di lautan besar, namun mereka yang telah biasa berlayar dengan kapal dagang akan pandai mengira-ngira luasnya pulau. Negeri-negeri itu semuanya dikenal atas satu nama umum, yakni kepulauan K’ulun, karena utusan K’ulun yang pertama kali datang di Ko-chin dan Kwang-tung.

Mengenai penyebutan K’ulun yang dianggap tidak begitu jelas, Pada bagian catatan kaki, Takakusu merujuk pendapat Professor Chavannes sebagai berikut:


Yang kurang lebih maksudnya mempertegas kembali kalimat I-Tsing tentang asal usul nama K’ulun, yaitu antara Kiue-loen dan Koen-loen, yang menurut I-Tsing jika menggunakan Kiue-loen akan merujuk pada sebutan orang Cina untuk pulau Condore dimana orang-orangnya berambut kriting dan berkulit hitam, sementara penduduk pulau-pulau besar di Laut Selatan (orang Melayu) tidak berbeda jauh dari orang Cina. 

Jadi, pada dasarnya I-Tsing pun juga tidak paham dengan jelas mengapa Pelaut sekaligus pedagang dari Nusantara yang pertama kali datang di Ko-chin dan Kwang-tung disebut K’u-lun atau K’un-lun.

Berikut ini penjelasan yang saya ajukan terkait ini…

dokpri

Dengan demikian, jika bentuk pinyin yang kita pilih adalah “gu-lun,” kata ini secara harafiah berarti “Manusia Pedagang”, hal ini sejalan dengan terjemahan Pelliot atas sa-po Sebagai “orang Sabaen“. Bagian itu dimuat dalam uraian Fa Hsien tentang Sri Lanka, yang menyatakan, sa-po berarti sarthavaha atau “kepala saudagar”.  

Orang Bajo atau Bajao atau Bajoe sendiri menyebut diri mereka “Orang Sama,”  yang dalam hal ini, dapat diduga bahwa “Sama” merupakan bentuk lain dari “Saba”  yang telah mengalami perubahan fonetik b menjadi m yang umum terjadi pada kelompok fonetik labial.

Fakta-fakta ini dengan sendirinya membenarkan uraian Raffles dalam bukunya The History of Java tentang orang Waju atau Bajo yang dikatakannya secara ekslusif menavigasi perdagangan luar negeri, yakni dari Nusantara ke Cina, India, Persia, Madagaskar, Afrika, dan lain sebagainya.

Jika hipotesis gu-lun sebagai bentuk asli dari K’u-lun untuk menyebut pelaut dan pedagang dari laut selatan (nusantara) dapat diterima, selanjutnya kita dapat bergerak lebih jauh dengan menimbang bahwa jika sebutan gu-lun merupakan bentuk transkripsi dari Cina, maka bisa jadi bentuk aslinya adalah “gu-run” yang mana nama ini dapat kita temukan disebutkan dalam naskah kakawin Negarakretagama, pada pupuh 14: “Pulau Gurun, yang juga biasa disebut Lombok Merah. Dengan daerah makmur Sasak diperintah seluruhnya. Bantalayan di wilayah Bantayan beserta Kota Luwuk, Sampai Udamaktraya dan pulau lain-lainnya tunduk.”

Author: fadlybahari

Penjelajah dan Pengumpul Esensi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s