Rekonstruksi Pemahaman tentang “Sawerigading”

Sawerigading adalah salah satu nama tokoh sentral dalam cerita naskah I La Galigo. Anak dari Batara Lattu’, cucu dari Batara Guru, dan ayah dari La Galigo. Keempat nama inilah yang mengisi silsilah Raja-Raja Luwu, yang secara khusus ditempatkan dalam periode mitologi.

Dalam tradisi Luwu dan Bugis pada umumnya, Sawerigading diartikan “keluar atau terlahir dari batang bambu”.

Tapi, dalam naskah disertasi Andi Zainal Abidin Farid yang berjudul “Wajo’ Pada Abad XV-XVI – Suatu Penggalian Sejarah Terpendam Sulawesi Selatan dari Lontara’” (1979) hlm. 382, diurai bahwa Lontara sejarah beberapa kerajaan seperti Soppeng, Bone, Pammana, otting, Lamuru, Mampu, Bulo-Bulo, Sidenreng, dan konon juga Batu, serta suppa’, memuat kisah raja pertama yang “turun dari langit” atau “menetas dari ruas bambu gading” ataupun “yang muncul dari busa air“.

Juga buku sejarah Buton yang ditulis dengan huruf Arab berbahasa Wolio, yang tersimpan di Kantor Kebudayaan Kabupaten Buton, melukiskan ratu pertama di wolio Buton yang digelar wa Kaka sebagai “puteri yang keluar dari bambu gading”.

Mencermati fakta ini, membuat saya yakin bahwa sebutan “Sawerigading” pada dasarnya merupakan sebuah bentuk ungkapan, bisa dikatakan sebagai sebuah gelar, dengan kata lain bukanlah sebuah nama tokoh yang nyata keberadaannya.

Pertanyaannya, jika itu sebuah ungkapan, apa makna yang dikandung di dalamnya?

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya akan membawa pembaca untuk memahami tanaman bambu terlebih dahulu, karena dengan memahami hal ini, pembaca akan dengan mudah menangkap maksud penjelasan saya nantinya.

Bambu adalah tanamanan yang unik. Ketika bambu ditanam, pada tahun pertama hingga tahun ke empat ia memperlihatkan pertumbuhan yang sangat lambat. Bagaimana pun kita menyiram dan merawatnya, sepanjang masa itu, tak banyak berkembangan yang dinampakkannya. Orang yang menanam mungkin akan terkecoh, merasa dirinya telah gagal menanam pohon bambu tersebut.

Sebenarnya, itu karena pada empat tahun pertama tersebut bambu memperkuat struktur akarnya, mengeraskan tanah dan mengambil ruang bersaing dengan tanaman lain. Setelah pertumbuhan akar sudah rampung, memasuki tahun ke lima atau masa dewasanya, barulah bambu menunjukkan pertumbuhan yang sangat cepat, bisa mencapai pertumbuhan 60-100 cm per-hari.

Proses kehidupan pohon bambu ini mengandung filosofis buat manusia, yakni betapa fondasi yang kuat sangat diperlukan.

Ketika telah memiliki struktur akar yang kuat, bambu yang tergolong tanaman rumput, akan menjadi rumput yang berbeda. Tingginya bisa terentang dari 30 cm hingga 30 meter. hingga potensi dan Kegunaan yang ditimbulkannya, membuatnya memiliki nilai tersendiri. Dari hal ini, manusia bisa mengambil pelajaran bahwa latar belakang bukanlah penentu, melainkan bagaimana kita berupaya mempersiapkan dan mengekspresikan potensi diri, Itulah yang akhirnya membuat kita menjadi pribadi luar biasa.

Author: fadlybahari

Penjelajah dan Pengumpul Esensi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s