Motif Sulur Cabai di Makam Raja Luwuq di Malangke, Sebuah Fakta Arkeologis

Seri Pengungkapan Nama-nama Kuno Pulau Sulawesi-3

Pada tulisan sebelumnya (bagian 1 dan bagian 2), saya telah mengulas nama lain pulau Sulawesi yang dalam kitab Nagara Kretagama pupuh 14 disebut: “Pulau Gurun, yang juga biasa disebut Lombok Merah”.

Selanjutnya, sebagaimana judul dari artikel, dalam kesempatan ini saya akan memberikan hipotesis lanjutan dengan merujuk pada bukti arkeologis yang terdapat pada makam raja Luwuq di Malangke, Luwu Utara, Sulawesi Selatan.


Fakta arkeologis untuk sebutan “Lombok Merah” sebagai nama pulau Sulawesi di masa kuno

Motif sulur cabai pada makam Raja Luwuq di Malangke (sumber: artikel Laila Chamsi-Pasha)

Dalam tulisan Laila Chamsi-Pasha (2008) bertajuk “A study of the Islamisation of South Sulawesi through an analysis of the grave of the second Muslim ruler of Luwuq” – (red: Sebuah studi tentang Islamisasi Sulawesi Selatan melalui analisis kuburan penguasa Muslim kedua Luwuq), diurai penjelasan mengenai makam Raja Luwuq Sultan Abdullah Muhiddin (memerintah c.1611-36), yang diantarnya menyebutkan bahwa pada makam tersebut terdapat motif yang menyerupai cabai. berikut ini kutipan:

Walaupun saya menyebut motif kedua di kuburan sebagai “cabai” karena kemiripannya dengan buah [tersebut], [namun] impor cabai ke Indonesia tidak terjadi sampai awal abad keenam belas ketika mulai digunakan dalam masakan (Robinson 2007). 

Meskipun secara teknis memungkinkan (kuburan berasal dari seabad setelah diperkenalkan) saya menduga bahwa desainnya bukan cabai, tetapi saya akan terus menyebutnya seperti itu. 

Sesuai dengan tema umum vegetasi yang tampaknya telah merangkum motif pada bingkai pintu masuk, saya berusaha untuk memastikan asal-usul “cabai” dari sumber Jawa yang sama tetapi ini terbukti sia-sia. 

Motif tersebut adalah desain yang lebih sulit untuk dilacak karena kelangkaan penampilannya dalam arsitektur Indonesia. Tidak umum menemukan desain daun tunggal, tidak melekat pada sulur tumbuhan seperti halnya yang ada pada “cabai” kita.

Terkait keraguan Laila Chamsi-Pasha pada pola cabai di makam, karena merujuk pada pendapat Robinson (2007): “the importation of chilli peppers into Indonesia did not occur until the early sixteenth Century” – saya pikir itu tidaklah perlu terjadi, karena pada naskah kuno Jawa Nagara kretagama (1365) jelas terdapat frase “lombok mirah” yang artinya “lombok merah” – dengan demikian ini dapat serta merta menyanggah pendapat Robinson yang mengatakan cabai atau lombok baru masuk ke Indonesia di kisaran abad keenam belas.

Saya telah menelusuri sumber tulisan Robinson tersebut pada situs time  – yang dapat dikatakan bahwa tulisan tersebut terkesan subjektif, dan hanya semata-mata didasari pada sudut pandang faktor para pelaut portugis saja yang pada masa lalu memungkinkan penyebaran cabai di dunia dapat terjadi. Sayangnya, pendapat ini kemudian menyebar luar dalam banyak artikel. 

Adapun Kalimat yang berkesan ragu yang sempat dicetuskan Laila Chamsi-Pasha di bagian awal, yaitu:”…saya menduga bahwa desainnya bukan cabai, …” – di bagian akhir, pada dasarnya ia kembali menguatkan pendapatnya dengan mengungkap ciri khusus yang hanya ada pada tumbuhan cabai, yaitu: “…Tidak umum menemukan desain daun tunggal, tidak melekat pada sulur tumbuhan seperti halnya yang ada pada “cabai” kita.” (jadi, dari mencermati susunan kalimatnya, dapat saya duga jika orang ini cukup labil… hehehee …butuh penguatan… hahahaa )

Author: fadlybahari

Penjelajah dan Pengumpul Esensi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s