Teori Darwin bisa dikatakan sebagai topik paling kontroversial dalam bidang ilmu pengetahuan, yang mengemuka dan menjadi bahan perdebatan sengit - mengiringi perjalanan sejarah manusia di abad-abad akhir millennium ke dua, dan tetap ramai dibahas serta menjadi tema popular di awal millennium ke tiga. Ini tidak lepas dari keberatan segmen agama, sosial hingga segmen politik yang ditimbulkannya.
Meskipun penelitian sains terkini telah memunculkan bukti kuat kebenaran teori Darwin, nyatanya, masih saja banyak kalangan tak bisa menerima kenyataan jika ia berasal dari kera.
Menurut survei Gallup 2014 , "Lebih dari empat dari 10 orang Amerika terus percaya bahwa Tuhan menciptakan manusia dalam bentuknya yang sekarang 10.000 tahun yang lalu, sebuah pandangan yang telah berubah sedikit selama tiga dekade terakhir.
Akademi Sains Nasional Amerika Serikat menyatakan: "Saat ini, banyak denominasi agama (kelompok keagamaan) menerima bahwa evolusi biologis telah menghasilkan keragaman makhluk hidup selama miliaran tahun dalam sejarah Bumi.
Denominasi agama yang tidak menerima terjadinya evolusi cenderung adalah mereka yang percaya pada interpretasi teks-teks agama yang sangat literal. (National Academy of Sciences; Institute of Medicine, 2008. Science, Evolution, and Creationism. Washington, D.C.: National Academy Press)
Bagian terakhir dari kalimat di atas, saya rasa ada benarnya. Dalam mencermati makna yang dikandung teks di dalam Kitab Suci terkadang memang dibutuhkan ketajaman intuitif dan keluasan wawasan agar dapat menginterpretasinya tidak secara literal.
Pemahaman tersebut dibutuhkan - seperti halnya dalam mencermati makna Surat Nuh (Surat ke 71 di dalam Al Quran) ayat 14 yang berbunyi: "Dan sungguh, Dia telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan (kejadian)".
Secara intuitif saya mendapati bunyi Surat Nuh ayat 14 ini ada kemungkinan terkait dengan teori Darwin, terutama pada kalimat "beberapa tingkatan (kejadian)".
Terlebih ketika menyadari bahwa surat Nuh merupakan Surat ke 71 di dalam Al Quran, yang mana ada kesesuaian dengan angka tahun penerbitan buku "The Descent of Man, and Selection in Relation to Sex," yaitu pada tahun 1871.
Pada buku "The Descent of Man, and Selection in Relation to Sex," inilah sesungguhnya untuk pertama kali Darwin menerapkan teori evolusi untuk evolusi manusia. Bukan pada buku On the Origin of Species yang selama ini, cenderung lebih populer disebutkan ketika orang berbicara tentang teori Darwin.
Menariknya, ayat ke 14 surat Nuh yang "mengisyaratkan" teori Darwin, terlihat memiliki kesamaan angka dengan harga jual Edisi pertama buku tersebut, yaitu: 1.4 s. (Darwin Online: The Descent of Man).
Tak ketinggalan, Halaman 14 buku "The Descent of Man" juga memberi isyarat yang senada. Halaman 14 buku tersebut adalah bagian halaman yang mengurai pokok pembahasan chapter I yang bertajuk "The evidence of the descent of man from some lower form " (Bukti keturunan manusia dari beberapa bentuk yang lebih rendah).
Seperti _yang say_a sebutkan di atas, Pada buku "The Descent of Man" inilah sesungguhnya untuk pertama kali Darwin menerapkan teori evolusi untuk evolusi manusia.
Berikut kutipannya...
Bukti yang diajukan Darwin pada bagian ini adalah terkait perkembangan Embrionik manusia yang dikatakannya tidak berbeda dengan ovula hewan lain, lebih jauh ia mengatakan bahwa Embrio pada periode sangat awal hampir tidak dapat dibedakan dari anggota lain dari kingdom Vertebrata.
Demikianlah, temuan ini setidaknya menghadapkan kita pada dua sisi sudut pandang, pertama, bahwa ini bisa kita lihat sebagai wujud mukjizat yang ditunjukkan Al Quran - mengabarkan suatu hal yang terjadi jauh di masa depan.
kedua, bahwa teori Darwin adalah benar. Secara holistik kita dapat melihat bahwa Charles Darwin dalam kehidupannya, sepertinya diberi peran oleh Sang Pencipta untuk memberi pemahaman kepada kita bagaimana proses kejadian makhluk hidup yang sesungguhnya.
Orang-orang yang menolak teori Darwin umumnya berpatokan pada penciptaan Adam yang disebut dalam kitab suci, padahal, Proses penciptaan Adam dan homo sapiens berbeda. Adam diciptakan Allah langsung ke bentuk sempurna menyerupai wujud makhluk homo sapiens yg ia temui di muka bumi.
Makhluk homo sapiens inilah yang dimaksud para malaikat dlm Al Baqarah ayat 30: (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, (...)
Dalam ayat ini, 'orang' disebut MAN مَنْ tetapi dibaca MAY- karena ada huruf yaa ﻱ di depannya ( مَنْ يُّفْسِدُ may yufsidu). Ayat ini dengan sendirinya mengisyaratkan bahwa telah ada makhluk 'orang' sebelum Adam diturunkan dari surga.
Dari kata MAN مَنْ inilah terminologi: MANU' dalam tradisi Hindu, MANUSIA dalam bahasa Indonesia, dan MAN dalam bahasa Inggris.
Karena Allah ingin menjadikan MAN مَنْ sebagai khalifah di muka bumi maka Adam diciptakan menyerupai MAN مَنْ. Seandainya Allah ingin menjadikan khalifah di muka bumi dari spesies burung maka mungkin Adam diciptakan menyerupai spesies burung.
Dewa Surya, Siwa atau Batara Guru: wujud manifestasi hadirnya ilmu pengetahuan di muka Bumi
Dalam kitab I La Galigo disebutkan, Batara Guru diturunkan dari langit untuk mengisi kehidupan di bumi yang masih kosong. Ia ditugaskan untuk menjadi leluhur (cikal bakal) penguasa dunia dan sekaligus untuk meletakkan fondasi tatanan hidup bermasyarakat dan berbudaya. (Mattulada. Its Ethnicity and Way of Life, Southeast Asian Studies, Vol. 20. No. 1 June 1982)
Dalam buku Kedatuan Luwu, Edisi 2: Perspektif Arkeologi, Sejarah dan Antropologi, Budianto Hakim dan M. Irfan Mahmud mengungkap tradisi lisan terkait kisah I La Galigo sebagai berikut:
…Bermula dari turunnya Batara Guru dari langit melalui rumpun bambu kuning(?). To Manurun ditemui Oro Keling (orang hitam) pada sebuah tempat yang disebut Saleko, sekarang masuk dalam Dusun Benteng, Desa Benteng, Kecamatan Wotu.
Oro Keling (orang hitam) yang ditemui Batara Guru (Nabi Adam) ketika hadir di bumi tampaknya adalah homo sapiens, makhluk kera berjalan tegak yang dimaksudkan Darwin dalam teori Evolusinya.
Pada saat itu, Batara Guru turun ke bumi mengajarkan orang berladang agar memperoleh hasil yang baik bagi kesejahteraan umat manusia. Ladang yang dimaksud legenda tersebut sekarang terletak di situs Mulataue, Wotu. Masyarakat lokal menyebut ladang itu Bilassa Lamoa yang artinya "Kebun Dewata" dalam bahasa Wotu.
Baca artikel terkait tentang Nabi Adam (Batara Guru): Pulau Serendip Asli, Letak Gua Adam Sesungguhnya
Rajeshwari Ghose dalam bukunya Saivism in Indonesia during the Hindu-Javanese period (The University of Hong Kong Press, 1966, hlm. 129-131), mengatakan bahwa dalam kitab Jawa kuno, Tantu Panggelaran, Bhattara Guru digambarkan sebagai guru pertama kali dari sekolah yang paling awal (paling tua), ia dikatakan sebagai guru para dewa (divine teachers). Dia direpresentasikan sebagai guru berbicara (speech) dan guru bahasa (language). Berikut ini kutipan dari buku Rajeshwari ghose:
In one of the old javanese manuscripts named candakirana which deals with metrics, orthography etc. in its first part and gives the usual from indonesian Koas or lexicons in the second half gives several names of Siva, visnu, uma etc. the couplets dealing with iva runs as follows:
Siva Sarva Virupaksa mahadevo Mahesvarah
Srikanthah Sankaro Bhargah Somadhrn nilalohitah
Krsanuretah Kamarih Pinaki Vrsaketanah
Dhurjjatis Trayamba Bhimah Sarvajno Giriso Nrdah
Ugrah Pasupatih Suli Vamadevo Ganadhipah
Isa Isvara Isanah Kapali Paramesvarah
Vrsabhadhvajah Kratuh (Dhvamsi) Bhutesas Candrasekharah
Sambu Sarvo Bhavah Sthanuh Sulabhrt Somabhrd Dharah
This Kosa gives about forty two names of Siva, in which the popular name, of Bhattara Guru is conspicuously absent. This was probably an exact copy of some indian original, which has been lost in India or is the product of an orthodox school of Hinduism, which we have seen existed side by side with the more hetrodox school.
In the Tantu Panggelaran, Bhattara Guru is described as the first of the long school of teachers or devagurus (divine teachers). He is represented as the teacher of speech and language. Mahadeva, however, is regarded as a goldsmith. …The blacksmiths are regarded as children of Mahadeva.
Pada data yang diungkap di atas terlihat bahwa etimologi “guru” dalam mitologi Hindu sangatlah selaras dengan citra Batara Guru yang dikisahkan dalam kitab I La Galigo, yang di sisi lain juga diidentifikasikan sebagai dewa Siwa (Martin Ramstedt. Hinduism in Modern Indonesia. Routledge, 2005, Hlm. 207).


