“Batu Pasui” di Karatuan, Mitologisasi Batu Gnomon Peninggalan kerajaan Ho-ling

Gnomon atau sundial, merupakan metode penentuan waktu dengan memanfaatkan bayangan matahari di masa kuno (sumber image: http://www.timecenter.com)

Batu Gnomon adalah jam matahari. Merupakan cara orang-orang di masa kuno untuk menentukan waktu, dengan memanfaatkan bayangan yang terbentuk ketika cahaya Matahari menerpa suatu objek (batu atau benda lainnya), sehingga objek tersebut membentuk bayangan.

Dalam kronik Cina, terdapat berita tentang orang-orang di kerajaan Ho-ling yang menggunakan batu gnomon untuk menentukan waktu.

Di daerah pegunungan ada sebuah daerah yang bernama Lang-pi-ya, raja sering pergi ke sana untuk menikmati pemandangan laut. Apabila pada pertengahan musim panas orang mendirikan gnomon setinggi 8 kaki, bayangannya akan jatuh ke sebelah selatannya, dan panjangnya dua kaki empat inci.” (Sejarah Nasional Indonesia – Zaman Kuno, Edisi Pemutakhiran. 2008. hlm. 119)

Pada tulisan saya sebelumnya, yaitu: Hipotesis Ini Buktikan Kerajaan Holing Terletak di Sulawesi – telah saya urai penjelasan mengenai bukti-bukti terbaru yang menunjukkan bahwa Kerajaan Ho-ling yang disebutkan dalam kronik Cina, besar kemungkinannya terletak di pulau Sulawesi.

Dalam tulisan tersebut, juga telah saya urai bahwa suatu toponim kuno, yakni “karatuan” yang saya identifikasi digunakan setidaknya di tiga wilayah di pulau Sulawesi, yakni di Basse Sang tempe (bastem), kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan; di Tappalang, Mamuju, Sulawesi Barat; dan di Bantaeng, Sulawesi Selatan, adalah merupakan bentuk lain dari kata “kadatuan“, yang dalam hal ini dapat kita pahami bahwa telah terjadi perubahan fonetis dan pada kedua kata tersebut.

Perbandingan keidentikan kata “Karatuan” dan “kadatuan” dapat pula kita temukan pada bentuk kata “kraton” dan “kdaton“.

Di sisi lain, pada umumnya prasasti-prasasti peninggalan dari masa kuno menggunakan kata kadatuan untuk menyebut suatu kerajaan. Seperti Sriwijaya yang biasanya ditulis dengan sebutan “kadatuan Sriwijaya”.

Terkhusus untuk wilayah karatuan di Bastem (Basse Sang Tempe) kabupaten Luwu, di wilayah ini terdapat suatu mitos tentang “batu pasui“. Pasui dalam bahasa tae’ kurang lebih artinya “pengisap“, jadi “batu pasui” secara harafiah dapat dimaknai “batu pengisap“.

Batu Pasui terletak di atas bukit karatuan bastem. yakni sebuah batu yang jika bayangan burung jatuh pada batu tersebut maka burung tersebut akan jatuh dan mati. Ini sebagaimana yang diungkap Puang F. Ratu, sebagai sesepuh pemangku Parengnge Karatuan – Basse Sang Tempe, ketika saya Mewawancarai beliau di kediamannya pada tanggal 8 Juni 2017.

Wawancara saya dengan Puang Puang F. Ratu,  sesepuh pemangku Parengnge Karatuan, di kediaman beliau, 8 Juni 2017 (Dokumen pribadi)

Bukit Karatuan adalah sebuah gunung batu yang tingginya sekitar beberapa puluh meter. Konon menurut masyarakat setempat, di puncak gunung batu ini terdapat banyak peninggalan kuno, karenanya tidak sembarang orang diizinkan naik ke gunung tersebut.

Dari artikel palopopos.fajar.co.id dengan judul Gunung Batu yang Dipercaya Ada Harta Karunnya – diberitakan bahwa menurut Ketua Umum KKBS Abdul Hafid Pasiangan, di atas puncak gunung batu tersebut terdapat sebuah lesung yang di bawahnya dipercaya ada harta karun nenek moyang masyarakat Bastem. Selain lesung ada juga sebuah batu yang masyarakat [setempat] menyebutnya dengan nama “batu Pasui”.

Dikatakan Hafid, menurus cerita leluhur jika ada sebuah burung yang terbang dekat batu tersebut, lalu bayangan burung itu terkena di batu, maka akan langsung mati dan jatuh. (palopopos.fajar.co.id – Gunung Batu yang Dipercaya Ada Harta Karunnya. Posted on Oktober 11, 2016)

Sumber lainnya, yakni Kadis Dukcapil Luwu, Muh. aras Nursalam, yang juga pernah menjabat camat di Bastem [Basse Sang Tempe], mengatakan bahwa dirinya pernah ke puncak gunung ini, dan di atas dijumpainya batuan yang mirip candi. (palopopos.fajar.co.id – Gunung Batu yang Dipercaya Ada Harta Karunnya. Posted on Oktober 11, 2016).

Tekstil Mesir Abad 3-4 M, Bernuansa Motif Toraja/ Bugis

Sumber: collection.cooperhewitt.org

Jika dalam beberapa tulisan sebelumnya, saya telah banyak menulis mengenai jejak unsur Nusantara pada masa kuno di wilayah barat (Timur tengah, Afrika, hingga Mediterania) yang umumnya dalam bentuk jejak bahasa ataupun toponim, maka kali ini, saya ingin menunjukkan jejak unsur Nusantara pada Mesir kuno dalam bentuk corak ragam hias dalam media tekstil yang saya temukan dalam koleksi Cooper Hewitt Smithsonian Design Museum. 

Koleksi tekstil dari Mesir abad ke 3-4 Masehi itu, disebutkan merupakan sumbangan dari Pemodal dan industrialis New York terkemuka John Pierpont Morgan. Kontribusi Morgan itu dilakukannya pada tahun 1902, setelah saat bepergian di Eropa, ia membeli koleksi-koleksi tekstil yang luar biasa dari koleksi Badia di Barcelona, koleksi Vives di Madrid, dan koleksi Baron di Paris. Dia menyumbangkan secara keseluruhan, yang terdiri dari lebih 1.000 item.

Sungguh sangat menarik, dikarenakan corak yang terdapat pada tekstil Mesir kuno tersebut, secara jelas memiliki keidentikan dengan motif Toraja dan Bugis. Seperti motif pa’erong, pa’sekong sala dan pa’sepu’ to Rongkong yakni konsep motif banji, pa’re’po’ sangbua (dalam sebutan Toraja) yang dalam tradisi Bugis lebih dikenal dengan konsep Sulapa’ appa’.

Keidentikan tersebut dapat pembaca cermati dalam gambar berikut ini:

dokpri
dokpri
dokpri

Unsur Motif Toraja/ Bugis dalam teksil Mesir kuno ini, saya perkirakan ada kaitannya dengan suku Tuareg yang saya identifikasi memiliki keterkaitan erat dengan sebutan to Ware’ di Luwu.

Dalam buku Ethnic Groups of Africa and the Middle East: An Encyclopedia, dibahas mengenai suku Tuareg yang merupakan penutur bahasa Berber yang tinggal di Aljazair selatan, Mali, Niger, Burkina Faso, dan jauh di barat daya Libya. 

Beberapa ahli berpendapat bahwa nama Tuareg, atau lebih tepatnya Tuwariq, adalah berasal dari bahasa Arab jamak (tunggal: Tariqi) yang kemudian diberikan orang lain kepada mereka. Tuareg sendiri menyebut diri mereka Kel Tamasheq, yang berarti penutur Tamasheq atau Kel Tagulmust atau orang terselubung, untuk sorban besar atau talgumust yang dikenakan oleh para pria. 

Tamasheq adalah salah satu dialek Berber, yang termasuk dalam kelompok bahasa Afro-Asia. Dalam buku Ethnic Groups of Africa and the Middle East: An Encyclopedia, dikatakan bahwa Berber tampaknya telah berpisah dari keluarga utama sekitar 9.000 tahun yang lalu ketika bangsa Berber bermigrasi ke barat ke Afrika Utara dari Lembah Nil.

Hal yang menarik dari info ini adalah kenyataan bahwa nama Tuareg atau Tuwariq sangat mirip dengan nama to ware’ di Luwu.  Wara adalah pusat kedatuan Luwu, dan pada umumnya orang-orang Luwu yang paham hal ini akan menyebut dirinya sebagai To Ware bisa dimaknai sebagai “orang asli Luwu“.

Adapun Ta-masheq atau Ta-mazight sebagai sebutan orang Tuwariq untuk diri mereka, bentuk aslinya adalah i-Mazigh-en, yang artinya “orang bebas” atau “orang mulia. (Peter Prengaman: 2001)

Jejak Pedagang Nusantara di Asia Tengah pada Masa Kuno

Barter atau saling bertukar barang adalah sistem perdagangan di zaman kuno. Tapi tahukah anda dari mana kata “tukar” itu berasal?

Ada kemungkinan kata “tukar” berasal dari kata “tuccar“, yakni sebutan “pedagang” dalam bahasa orang Turks (bangsa Turki kuno). Ini merujuk pada nama bangsa Tocharia yang berdagang dengan mereka dalam kurun waktu yang sangat lama.

Di dalam bahasa Banjar, memang terdapat kata “tukar” dengan arti “beli”. Tapi apakah ini bisa menjadi jawaban untuk pertanyaan di atas? – saya pikir tidak.

Itu karena makna kata “tukar” dalam bahasa Banjar lebih bersifat sinonim dengan kata “beli”, dan tidak cukup mengandung unsur Linguistik historis (Historical Linguistics atau Diachronic Linguistics), yang dalam britannica.com didefinisikan sebagai cabang linguistik yang berkaitan dengan studi perubahan fonologis, gramatikal, dan semantik, rekonstruksi tahap-tahap awal bahasa, penemuan serta penerapan metode-metode di mana hubungan genetik antar bahasa dapat diperlihatkan.

Asal usul kata “tukar”

Untuk mendapatkan jawaban atas asal usul kata “tukar” yang bisa dianggap memiliki unsur Linguistik historis, saya ingin mengajak pembaca untuk mencermati suatu informasi dari Mario Mosetto dalam bukunya “Origins of European Peoples: Part One: Ancient History“, pada Chapter 16 “Turks and Indo-Europeans“, yang mengatakan bahwa:

The Turkish calls the merchant Tuccar and the trade ticaret and commercial (adjective) sounds like ticari: these are clearly the Tocharians (Tuxari before), who traded for a long time with the Turks.

Translate: “Orang Turki menyebut pedagang dengan sebutan “Tuccar“, “ticaret” untuk perdagangan, dan komersial (kata sifat) terdengar seperti “ticari“: ini jelas-jelas [merujuk pada] Tocharians (Tuxari sebelumnya), [yaitu bangsa] yang berdagang dengan orang Turki dalam waktu yang lama.”

Dari keberadaan informasi yang disampaikan Mario Mosetto di atas, yang kemudian jika disandingkan dengan ulasan Frances Wood (2002) dalam bukunya “Jalur Sutra Dua Ribu Tahun di Jantung Asia” tentang orang Tocharia dan Sogdia sebagai pelaku utama perdagangan di jantung asia (Asia Tengah) dalam kurun waktu ribuan tahun, kita dapat membangun sebuah pemahaman bahwa bisa jadi kata “tukar” berasal dari kata “tuccar” yang merupakan sebutan orang Turki untuk “pedagang” yang merujuk pada Tocharia yang terkenal sebagai bangsa pedagang pada zaman kuno di Asia Tengah.

Adapun sebab mengapa hingga kemudian kata tersebut dapat kita temukan digunakan di wilayah Nusantara pada masa sekarang ini, dapat kita asumsikan merupakan hasil serapan pedagang Nusantara yang eksis melakukan perdagangan di wilayah Asia Tengah pada masa kuno.

Pada tulisan sebelumnya (Genetik Aksara Nusantara, Formula Kunci Mengurai Sejarah) telah saya bahas mengenai adanya jejak orang-orang Bugis di wilayah Asia tengah, dengan merujuk pada fakta adanya sebutan yang identik dengan kata “bugis” dalam bahasa Uzbek, yaitu “bo’g’iz” yang artinya: teluk. Fakta ini dikuatkan dengan keberadaan kata “Look” (sound: luwu’ atau luwuk) dalam bahasa Filipina yang juga berarti “teluk”.

Di sisi lain, Adalah sudah menjadi konsensus umum di mayoritas sejarawan di Sulawesi Selatan bahwa Luwu merupakan induk dari semua etnis yang ada di Sulawesi Selatan.

Adanya etimologi “Luwu” dan “Bugis” yang sama-sama berarti “teluk” menunjukkan jika keduanya tidak ada bedanya. 

Dan, bahwa kata “bo’g’iz” dalam bahasa Uzbek tentulah berasal dari orang-orang dari pulau Sulawesi. (Pembahasan secara rinci mengenai keterkaitan Luwu dan Bugis ini dapat dibaca di tulisan “Fakta Migrasi di Masa Kuno, dari Nusantara ke Dunia Barat“)

Matematika Surgawi dan Budaya Astronomi

Pembagian waktu menurut posisi matahari di langit sebagai petunjuk waktu ibadah yang pada masa sekarang umum terlihat pada pengikut Nabi Muhammad, pada dasarnya telah terdapat pula dalam tradisi keagamaan umat nabi-nabi terdahulu.

Telah banyak penelitian yang dilakukan para ahli untuk mengetahui pola siklus ibadah harian umat Yahudi dan Kristiani di masa-masa awal millennium pertama.

Seperti yang dilakukan oleh Paul F. Bradshaw misalnya. Ia adalah profesor Liturgi di Universitas Notre Dame di Amerika Serikat, dari tahun 1985 hingga 2013, dan telah banyak mendapatkan penghargaan. Salah satunya adalah dianugerahi berakah Award  oleh Akademi Luturgi Amerika Utara – suatu penghargaan yang diberikan setiap tahun kepada seorang liturgis terkemuka “sebagai pengakuan atas kontribusi terhormat untuk pekerjaan liturgi profesional.”

Dalam buku The Book of Acts in Its First Ceuntury Setting vol. 4, diungkap pendapat Bradshaw yang mengusulkan bahwa umat Kristiani paling awal mewarisi siklus doa harian Yahudi; pagi, siang dan malam, ditambah tengah malam, (…) Awalnya dipengaruhi oleh gerakan matahari, kemudian dihubungkan dengan pengorbanan bait suci.

Dia kemudian merevisi pandangannya atas dasar karya mahasiswa doktoralnya L.E. Phillips (1989), yang setuju bahwa pola doa harian Kristen yang paling awal adalah pagi, siang, sore dan malam.

Dalam praktik Christianity, jam kanonik, yaitu jadwal tradisional siklus monastik doa harian – terbagi dalam beberapa pembagian waktu, yaitu; Prime, Terce, Sexte, None, Vespers, and Compline.

Setiap jam ini mengacu pada waktu di mana periode doa dimulai, dan ke ruang waktu dari jam itu ke jam berikutnya; dengan demikian, “Prime” bisa berarti jam 6 pagi, atau periode dari jam 6 pagi sampai jam 9 pagi.

Berikut ini selengkapnya: Matins (Tengah Malam); Lauds (sekitar 3 AM); Prime: 6-9 AM (matahari terbit dan pagi hari); Underne (Terce): 9-12 AM (pagi); Sexte: 12-3 PM (siang); None: 3-6 PM (sore); Vesper (Senja/Maghrib): 6-9 PM (malam); Compline: 9 PM. (Jeffrey L. Forgeng. Will McLean. Daily Life in Chaucer’s England, 2009)

Dari uraian singkat di atas, dapat kita lihat bahwa pembagian waktu-waktu ibadah yang terdapat dalam tradisi keagamaan Yahudi dan Kristiani – nampak nyaris tidak ada bedanya dengan waktu-waktu shalat harian dalam tradisi Islam. 

Pembagian waktu-waktu tersebut berinterval waktu 3 jam. Dimulai pada jam 6.00 (terbit matahari) – jam 9.00 (pagi) – jam 12.00 (siang) – jam 15.00 (sore) – jam 18.00 (terbenam matahari). Hanya saja dalam tradisi Islam, terdapat pelaksanaan waktu shalat malam yang dilakukan beberapa jam setelah matahari tenggelam (dimulai sekitar jam 7 atau jam 8 malam) yang hukumnya wajib, yakni waktu Isya. Bisa dikatakan ini sama dengan waktu ibadah Compline (9 PM) dalam tradisi kristiani.

Interval waktu 3 jam ini, dalam pembagian garis bujur bernilai 45 derajat. Jadi nilai masing-masing waktu tersebut adalah: jam 6.00 = 0 derajat; jam 9.00 = 45 derajat; jam 12.00 = 90 derajat; jam 15.00 = 135 derajat; jam 18.00 = 180 derajat. 

Negeri Sabah atau Negeri Pagi, Identitas Nusantara di Masa Kuno

Dalam tulisan sebelumnya “Ini Beberapa Catatan Kuno yang Menyebut Nusantara sebagai Negeri Saba” telah saya ungkap beberapa catatan dari masa lalu yang kuat mengindikasikan Nusantara sebagai negeri saba yang ada disebut dalam Al-Kitab maupun Al-Quran.

Pertanyaan yang mestinya timbul kemudian adalah, Jika benar Nusantara adalah negeri Saba, mengapa ia disebut negeri saba? apa alasannya?

Untuk menjawab pertanyaan penting ini, saya akan terlebih dahulu mengenalkan satu bentuk toponim dan etnonim kuno yang banyak terdapat di wilayah timur Nusantara hingga wilayah selandia baru, yakni: Mori atau Maori.

Mori atau Maori yang berarti “pagi”

Di wilayah timur, tempat bersemayamnya Helios sang Dewa Matahari dalam mitologi Yunani, terdapat banyak toponim dan etnonim yang menggunakan kata “Mori”.

Seperti Suku Maori (penduduk asli Selandia Baru), Suku Mori di Sulawesi tengah, Pulau Mori di muara sunga Malili di Luwu Timur, dan Puncak Nene’ Mori yang merupakan puncak kedua tertinggi di pegunungan Latimojong setelah puncak Rante Mario.

pulau mori di sekitar muara sungai Malili, Luwu Timur.

Puncak nene’ mori di pegunungan Latimojong, Sulawesi Selatan.

Mungkin pada pikiran Pembaca akan segera timbul pertanyaan lain: apa pula hubungan antara Helios sang Dewa Matahari, Mori, dan Negeri Pagi yang menjadi judul artikel ini?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya ingin membawa pembaca untuk terlebih dahulu memahami filosofi “Bangsa Matahari” yang mendasari lahirnya mitologi Dewa Matahari, yang dalam kurun waktu ribuan tahun perjalanan peradaban manusia, terus eksis, hadir di peradaban berbagai bangsa dengan sebutan yang berbeda-beda.

Kita patut bersyukur karena pemahaman filosofi yang mendasari spirit peradaban manusia selama ribuan tahun itu dapat kita temukan terekam dalam catatan Himne tertua Veda, yakni pada himne 1.115 Rgveda yang menyebutkan: 

Surya sebagai penghormatan khusus untuk “Matahari Terbit” dengan simbolismenya sebagai penghilang kegelapan, orang yang memberdayakan pengetahuan, kebaikan dan semua kehidupan. 

Untuk diketahui, dalam tradisi Hindu, Surya berkonotasi Dewa Matahari. (Roshen Dalal, Hinduism: An Alphabetical Guide, 2011).

Hal terpenting untuk dicermati dari Rekaman Himne tertua Veda di atas, adalah pada kalimat “sebagai penghormatan khusus untuk Matahari terbit”, karena ini mesti kita cermati bahwa dari kesemua rentang waktu posisi matahari di langit pada siang hari, hal yang paling dikhususkan terletak pada posisi waktu ia terbit, yang dalam perbendaharaan Bahasa kita pada hari ini, kita kenal dengan sebutan “pagi”.

Seorang teman saya di Facebook yang bertempat tinggal di Singaraja Bali, mengatakan Di bali setiap perande, peranda, atau pedanda (pendetanya orang Bali) memiliki kewajiban “nyurya sewana” di pagi hari memuja matahari yang baru terbit. 

Beliau juga mengatakan bahwa Orang bali kebanyakan menyebut perandenya (pendétanya) dengan sebutan “suryan tityangé” (matahari saya) atau bisa diartikan “wakil saya memuja matahari”. Dengan demikian, dapat kita pahami bahwa sikap penghormatan khusus untuk Matahari terbit” hingga kini masih lestari dalam kebudayaan masyarakat Bali.

Ini Beberapa Catatan Kuno yang Menyebut Nusantara sebagai Negeri Saba

Pada masa sekarang, ada banyak pihak yang mengklaim Nusantara sebagai negeri Saba di masa lalu. Namun klaim-klaim tersebut umumnya didasari oleh keberadaan beberapa toponim di Nusantara yang dianggap identik dengan nama “Saba atau Sabah”, antara lain: Wonosobo, sabah, dan masih banyak lagi.

Klaim yang didasari keberadaan toponim yang dianggap identik seperti ini akan menemukan kesulitan ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa terdapat pula toponim atau etnonim yang identik dengan Saba di wilayah belahan bumi lain, didukung dengan bukti-bukti yang lebih konkrit berupa manuskript kuno dan berbagai artefak lainnya.

Contohnya “kebra nagast“, catatan kuno dari abad ke-14, yang berisi penjelasan tentang bagaimana Ratu Syeba (Ratu Makeda dari Ethiopia) bertemu Raja Salomo dan tentang bagaimana Tabut Perjanjian datang ke Etiopia dengan Menelik I (Menyelek). Terkait hal ini, David Allan Hubbard menjelaskan Dalam tulisannya “The Literary Sources of the Kebra Nagast” (Dissertation. University of Saint Andrews,1956).

Juga terdapat temuan arkeologis di wilayah Yaman (Arab selatan) mengenai eksistensi kerajaan Saba di wilayah tersebut pada masa kuno. Sebagaimana yang dijelaskan Israel Finkelstein dan Neil Asher Silberman (2007) dalam buku “David and Solomon: In Search of the Bible’s Sacred Kings and the Roots of the Western Tradition” yang menegaskan negeri Saba letaknya di Arabia Selatan.

Namun pun demikian, klaim Nusantara sebagai Negeri Saba pada masa lalu, tidak sepenuhnya lemah. Terdapat beberapa catatan kuno yang secara signifikan menyebutkan nusantara sebagai Negeri Saba.

Laporan Giovanni de Marignolli, seorang musafir Katolik

Laporan Nusantara sebagai negeri Saba yang sesungguhnya, datang dari catatan perjalanan Giovanni de Marignolli, seorang musafir katolik terkemuka dari Eropa yang berkelana ke Cina pada abad-14 Masehi. Catatan perjalanan Marignolli itu kemudian diedit oleh Gelasius Dobner dalam “Monumenta historica Bohemi” (Praha, 1768) dalam bentuk bahasa latin. Ada pun terjemahan bahasa inggrisnya dapat ditemukan dalam buku Sir Henry Yule “Cathay and the way thither: being a collection of medieval notices of China”.

Ia mengatakan bahwa dalam perjalanan pulang dari Cina untuk kembali ke Avignon (Italia), ia memutuskan menggunakan jalur laut, setelah sebelumnya menggunakan jalur darat untuk memasuki wilayah Cina, yang dengan demikian, memungkinkan ia untuk dapat mampir di Nusantara dan India. Dalam perjalanan pulang ini ia mengatakan menyempatkan diri mengunjungi negeri Saba yang disebut dalam kitab suci, yang ia temukan masih dipimpin oleh seorang ratu.

Ia menyebut kerajaan itu terletak di pulau paling indah di dunia. Dinding istana dihiasi dengan gambar-gambar historis yang bagus; kereta dan gajah banyak digunakan, terutama untuk para wanita; ada gunung yang sangat tinggi, yang disebut Gybeit atau “Yang Terberkati.” Ratu memperlakukan dengan baik para pelancong dengan menghadiahkan mereka ikat pinggang emas; ada beberapa orang-orang Kristen di sana.

Rekonstruksi Pemahaman tentang “Sawerigading”

Sawerigading adalah salah satu nama tokoh sentral dalam cerita naskah I La Galigo. Anak dari Batara Lattu’, cucu dari Batara Guru, dan ayah dari La Galigo. Keempat nama inilah yang mengisi silsilah Raja-Raja Luwu, yang secara khusus ditempatkan dalam periode mitologi.

Dalam tradisi Luwu dan Bugis pada umumnya, Sawerigading diartikan “keluar atau terlahir dari batang bambu”.

Tapi, dalam naskah disertasi Andi Zainal Abidin Farid yang berjudul “Wajo’ Pada Abad XV-XVI – Suatu Penggalian Sejarah Terpendam Sulawesi Selatan dari Lontara’” (1979) hlm. 382, diurai bahwa Lontara sejarah beberapa kerajaan seperti Soppeng, Bone, Pammana, otting, Lamuru, Mampu, Bulo-Bulo, Sidenreng, dan konon juga Batu, serta suppa’, memuat kisah raja pertama yang “turun dari langit” atau “menetas dari ruas bambu gading” ataupun “yang muncul dari busa air“.

Juga buku sejarah Buton yang ditulis dengan huruf Arab berbahasa Wolio, yang tersimpan di Kantor Kebudayaan Kabupaten Buton, melukiskan ratu pertama di wolio Buton yang digelar wa Kaka sebagai “puteri yang keluar dari bambu gading”.

Mencermati fakta ini, membuat saya yakin bahwa sebutan “Sawerigading” pada dasarnya merupakan sebuah bentuk ungkapan, bisa dikatakan sebagai sebuah gelar, dengan kata lain bukanlah sebuah nama tokoh yang nyata keberadaannya.

Pertanyaannya, jika itu sebuah ungkapan, apa makna yang dikandung di dalamnya?

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya akan membawa pembaca untuk memahami tanaman bambu terlebih dahulu, karena dengan memahami hal ini, pembaca akan dengan mudah menangkap maksud penjelasan saya nantinya.

Bambu adalah tanamanan yang unik. Ketika bambu ditanam, pada tahun pertama hingga tahun ke empat ia memperlihatkan pertumbuhan yang sangat lambat. Bagaimana pun kita menyiram dan merawatnya, sepanjang masa itu, tak banyak berkembangan yang dinampakkannya. Orang yang menanam mungkin akan terkecoh, merasa dirinya telah gagal menanam pohon bambu tersebut.

Sebenarnya, itu karena pada empat tahun pertama tersebut bambu memperkuat struktur akarnya, mengeraskan tanah dan mengambil ruang bersaing dengan tanaman lain. Setelah pertumbuhan akar sudah rampung, memasuki tahun ke lima atau masa dewasanya, barulah bambu menunjukkan pertumbuhan yang sangat cepat, bisa mencapai pertumbuhan 60-100 cm per-hari.

Proses kehidupan pohon bambu ini mengandung filosofis buat manusia, yakni betapa fondasi yang kuat sangat diperlukan.

Ketika telah memiliki struktur akar yang kuat, bambu yang tergolong tanaman rumput, akan menjadi rumput yang berbeda. Tingginya bisa terentang dari 30 cm hingga 30 meter. hingga potensi dan Kegunaan yang ditimbulkannya, membuatnya memiliki nilai tersendiri. Dari hal ini, manusia bisa mengambil pelajaran bahwa latar belakang bukanlah penentu, melainkan bagaimana kita berupaya mempersiapkan dan mengekspresikan potensi diri, Itulah yang akhirnya membuat kita menjadi pribadi luar biasa.

Filosofi “Bangsa Matahari”

Semua bermula dari kehadiran sosok seorang guru yang mengajari sekelompok manusia primitif di sebuah pulau, di ujung timur bumi, kemampuan bahasa dan berbicara, tatanan pranata, bercocok tanam hingga berbagai keahlian lainnya.

Demikian berjasanya sosok tersebut, sehingga setelah kepergiannya, ia dikenang dan dianalogikan sebagai “Matahari terbit di pagi hari yang menghilangkan gelap malam”, untuk melukiskan betapa ilmu yang telah ia ajarkan bagaikan cahaya matahari pagi yang hadir menghilangkan gelap malam (kebodohan).

Berabad-abad kemudian, manusia di pulau itu telah tumbuh berkembang menjadi bangsa yang berbudi pekerti luhur, menguasai ilmu pengetahuan tinggi, dan hidup dalam kemakmuran dan kedamaian. 

Mereka menamakan dirinya “Bangsa Matahari” karena segala hal dalam kehidupan mereka mengacu pada filosofi Matahari.

Sebagaimana Matahari yang bergerak ke arah barat membawa cahayanya, maka mereka pun melakukan hal yang sama, dengan bergerak ke barat menyebarkan peradabannya.

Untuk mewujudkan misi kampanye penyebaran peradaban ke barat, mereka mengembangkan kemampuan navigasi pelayaran untuk mengarungi lautan, dan mengembangkan teknologi kereta kuda sebagai alat transportasi darat.

Begitu bermakna dan dianggap sakralnya kegiatan pelayaran dalam misi penyebaran peradaban tersebut, sehingga kemudian, hal itu terekam dalam mitologi Mesir dengan ilustrasi Dewa Ra (Dewa Matahari Mesir) setiap hari berlayar dengan “perahu siang” melintasi perairan langit, dan pada malam hari berpindah ke “perahu malam” untuk berlayar melewati Duat (wilayah misterius yang terkait dengan kematian dan kelahiran kembali).

Dewa Ra dengan perahu matahari (sumber: landofpyramids.org)

Sementara itu, penyebaran peradaban dengan menggunakan kereta kuda sebagai alat transportasi, terekam dalam mitologi Yunani kuno, dengan ilustrasi Helios (Dewa Matahari Yunani) yang mengendarai kereta kuda melintasi langit setiap hari (menuju barat pada siang hari, dan menuju timur pada malam hari.

Helios dianggap setara dengan Sol dalam mitologi Romawi, yang dalam bahasa Proto Indo-Eropa disebut “Sehuel”. Dari nama “Sol” atau “Sehuel” inilah sebutan paparan sahul di wilayah Papua dan Australia berasal. Sementara itu, nama samudera Pasifik berasal dari nama putri Helios, yakni “Pasiphae”.

Helios dengan kereta kudanya. Relief di kuil Athena , Ilion. (sumber: wikipedia.org)

Demikianlah, kegiatan misi penyebaran peradaban di tahap paling awal, oleh orang-orang “Bangsa Matahari” , dianggap begitu sakral. Mungkin kita bisa melihatnya seperti misi penyebaran agama oleh para pendeta di masa modern.

Untuk mengorganisir sekaligus menjaga keberlangsungan misi penyebaran peradaban, Bangsa Matahari mendirikan koloni-koloni di titik-titik yang dianggap strategis dari wilayah timur hingga ke wilayah barat.

Pelayanan kebutuhan daerah-daerah koloni yang dilakukan melalui pelayaran laut maupun kereta kuda, seiring berjalannya waktu melahirkan kegiatan transaksi pertukaran barang di antara koloni-koloni tersebut.

Esensi Bahasa Adam

(sumber ilustrasi: quietrev.com)

Bahasa pada dasarnya adalah: “kumpulan nama-nama”. 

Dengan kata lain, semua “kata” yang kita kenal di dalam bahasa, pada dasarnya merupakan: 

  • nama-nama benda (dalam ilmu tata bahasa dikelompokkan dalam golongan kelas kata benda)
  • nama-nama tindakan (dalam ilmu tata bahasa dikelompokkan dalam golongan kelas kata kerja)
  • nama-nama sifat (dalam ilmu tata bahasa dikelompokkan dalam golongan kelas kata sifat).

Suatu hal menarik karena, pemahaman bahwa bahasa sebagai “kumpulan nama-nama,” rupa-rupanya telah pula dimiliki oleh leluhur kita jauh di masa lalu. Hal ini dapat kita temukan buktinya pada bahasa tae’ (bahasa tradisional yang pada umumnya digunakan orang Luwu dan Toraja di Sulawesi Selatan), yakni pada kata “sanga” yang bermakna: “kata” dan juga “nama”, tergantung penempatannya pada bentuk kalimat mana ia digunakan. 

Contoh pertama: apa na sanga? – artinya: apa katanya? (pada contoh kalimat ini “sanga” bermakna “kata”, yang mana kita ketahui bahwa “kata” adalah satuan bahasa terkecil yang dapat berdiri sendiri). 

Contoh kedua: inda sanganna? – Artinya: siapa namanya? (pada contoh kalimat ini “sanga” bermakna “nama”). 

Dari uraian ini, dapat kita lihat bahwa dengan cara yang unik, bahasa tae’ menunjukkan kepada kita bahwa “kata” dan “nama” adalah leksikon yang identik satu sama lain.

Hal yang senada sebenarnya juga dapat kita temukan dalam bahasa Inggris. Misalnya dalam kalimat “Name your price!” yang dapat bermakna: “sebutkan hargamu!” walaupun secara harfiah artinya adalah: name (nama); your price (hargamu). Ini fakta bahwa dalam bahasa Inggris pun ‘nama’ dan ‘kata’ menunjukkan leksikon yang identik.

“Nama” atau “kata” inilah yang jika disusun sedemikian rupa dapat memunculkan “makna” -yang berwujud: sebagai sebuah pesan dalam kegiatan berkomunikasi; dan, sebuah struktur logika dalam kegiatan berpikir. Dengan kata lain, Bagi manusia, guna bahasa bukan hanya untuk berkomunikasi tapi juga untuk berpikir.

Ada beberapa tokoh pemikir berpengaruh yang tampil menunjukkan bahwa “pikiran dan bahasa” sebagai hal yang sama. Antara lain: Plato, Kant, Watson, Wittgenstein, dan Humboldt.

Humboldt misalnya, mencatat bahwa “Language is the formative organ of thought… Thought and language are therefore one and inseparable from each other.” Yang kurang lebih artinya: bahasa adalah formatif organ pemikiran… Karena itu pikiran dan bahasa adalah satu dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Jerry Fodor dalam bukunya The Language of Thought (1975), untuk pertama kali, memperkenalkan The language of thought hypothesis (LOTH), yakni sebuah hipotesis bahwa representasi mental memiliki struktur linguistik, atau dengan kata lain, pemikiran itu terjadi dalam bahasa mental.

Bisa jadi inilah makna dari Surat Al-Baqarah Ayat 31: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam semua nama…” yang pada dasarnya sama dengan mengajarkan Adam berbahasa.

Sains Buktikan Kosmologi Nusantara Orisinil

Pemahaman makro kosmos dan mikro kosmos yang diwariskan dari masa kuno, bisa dikatakan merupakan ajaran pengenalan jati diri yang paling awal dari yang terawal yang pernah dikenal manusia.

Di berbagai bangsa di dunia, terdapat konsep kosmologi (makro kosmos dan mikro kosmos) yang pada prinsipnya sama. Perbedaan terlihat hanya pada jumlah. Ada yang unsur atau elemennya berjumlah empat (terdiri dari udara, air, api dan tanah), dan ada yang berjumlah lima (terdiri dari udara, air, api, tanah, dan eter).

Di Indonesia umumnya hanya berjumlah empat. Di Jawa, Bugis dan Toraja misalnya, hanya terdiri dari: Udara, Air, Tanah dan Api.

Dalam filsafat hindu dikenal Pancha Bhoota atau Pancha Maha-Bhoota, merupakan lima elemen dasar yang menurut Hinduisme adalah dasar dari semua ciptaan kosmik, mewakili lima element dalam tubuh manusia dan juga Alam Semesta. Pancha Maha Bhoota atau lima elemen itu adalah: Prithvi (Bumi), Apas/ Varuna (Air), Agni (Api), Vayu (Udara), Aakash (Eter).

Dalam Bon atau filsafat kuno Tibet, lima proses dasar yaitu: bumi, air, api, udara, dan angkasa menjadi proses utama dari semua atau seluruh fenomena (Skandha). Proses utama ini menjadi sumber dari kalender, astrologi, pengobatan, psikologi, dan dasar dari tradisi spiritual Shaman, Tantra, dan Dzogchen.

Dalam filsafat Tao, terdapat sistem yang mirip dengan 5 elemen, yaitu elemen Bumi, Air, Api, Logam, Kayu. Elemen Logam merupakan padanan dari elemen Udara, dan elemen Kayu merupakan padanan dari elemen Ether. 

Selain itu dikenal juga Qi atau Chi, yang merupakan sebuah bentuk “energi” atau “kekuatan”. Dalam filsafat China, seluruh alam semesta terdiri dari surga dan bumi, di mana surga terbuat dari energi Qi dan bumi terbuat dari energi lima elemen.

Pada konsep kosmologi Yunani kuno dikenal lima elemen dasar, yaitu: udara, air, tanah, api, dan eter, yang disajikan untuk menjelaskan sifat dan kompleksitas semua materi dalam hal substansi yang lebih sederhana. 

Kepercayaan Yunani kuno tentang lima elemen dasar ini, dikatakan berasal dari masa pra-Sokrates dan berlangsung sepanjang Abad Pertengahan hingga Renaissance, sangat mempengaruhi pemikiran dan budaya Eropa. Kelima elemen ini kadang-kadang dikaitkan dengan “the five platonic solids“.

Demikianlah, rincian konsep kosmologi dari beberapa bangsa di dunia. Jika kita cermati, selain empat elemen dasar yang kita kenal dalam kosmologi Nusantara, yaitu: Udara, Air, Tanah, dan Api, di beberapa bangsa lain di dunia mengenal 5 (lima) elemen dasar, dengan menambahkan ruang kosong (kekosongan), void, atau eter sebagai entitas ke-lima.

Tentunya kita menjadi bertanya-tanya mengapa kita hanya mengenal 4 elemen dasar sementara bangsa lain, mengenal 5 elemen dasar. Apakah kita yang keliru atau bangsa-bangsa diluar sana yang keliru?

Untuk mencermati hal ini, saya akan membawa pembaca mencermati konsep “ruang” ataupun “eter”, hal yang tidak kita miliki dalam konsep kosmologi kita di Nusantara.